Kikis Gerakan Radikal dan Terorisme
Seniman mengecat patung burung Garuda Pancasila di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (4/6/2017). Foto: MI/Susanto
Jakarta: Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni berharap Hari Kelahiran Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat pentingnya persatuan dan menghargai kebinekaan. Momentum Hari Kelahiran Pancasila diharapkan mengikis gerakan radikal termasuk terorisme.

Sahroni mengingatkan, dengan pancasila sebagai dasar negara, pendiri negara telah mempersatukan Indonesia yang terdiri atas berbagai suku dan bahasa serta kebudayaan menjadi satu bangsa. Sayangnya hingga beberapa tahun terakhir, upaya menghancurkan persatuan masih terus tampak di tanah pertiwi.

“Terkait Hari Kelahiran Pancasila, saya menganggap yang sedang marak sekarang adalah radikalisme mungkin sudah keluar dari ranah semestinya. Padahal dasar kita bernegara dari Pancasila dan UUD,” kata Sahroni, melalui keterangan tertulis, Jumat, 1 Juni 2018.


Sahroni mengungkapkan penanggulangan terorisme meski terus dilakukan oleh penegak hukum dibantu TNI. Apalagi bentuk radikalisme semakin berkembang.

“Radikalisme model baru ini melibatkan anak. Doktrinnya luar biasa, melalui media sosial, misalnya mengajarkan anak bukan lagi bercita-cita jadi presiden, dokter, atau pengusaha besar. Ini kultur yang harus diperbaiki dari atas ke bawah. Indonesia dengan kultur yang luar biasa harusnya lebih adem dan terjalin silaturahmi yang hebat,” tutur Sahroni.

Politisi Partai NasDem ini mengingatkan upaya pengkaderan terus dilakukan jaringan teroris. Bukan hanya telah menjangkau lingkungan akademis seperti kampus ataupun unversitas, jaringan ini bahkan telah berani menanamkan paham radikal ke aparat penegak hukum.

“Jangankan universitas (yang sudah terpapar), dari kepolisian pun sudah masuk. Lambat laun akan menjadi sel baru. Perlahan didoktrin dan memakai sarana medsos. Bisa jadi 10 tahun ke depan ada orang-orang baru (teroris) yang tidak kita pikirkan,” kata dia.

Baca: Jokowi: Pancasila akan Terus Mengalir di Denyut Nadi Rakyat

Ia meminta pemberantasan terorisme tak terus dikaitkan dengan pelanggaran HAM karena tindakan yang dilakukan para pelaku justru membuat Indonesia terkungkung dalam kesedihan. Ia menekankan pentingnya menjaga keharmonisan, khususnya atas berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. 

Memasuki tahun politik, ia meminta Polri dan TNI mampu mendeteksi upaya munculnya kegaduhan dan memecah belah persatuan. “Polri dibantu TNI harus mewaspadai upaya munculnya konflik sosial dan gerakan radikal di berbagai daerah yang akan memecah persatuan, khususnya jelang Pemilu 2019,” imbuhnya.





(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id