Sarjono Kartosuwiryo, putra pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo, - Medcom.id/Faisal Abdalla.
Sarjono Kartosuwiryo, putra pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo, - Medcom.id/Faisal Abdalla.

Anak Eks Pendiri DI/TII Sadar Butuh NKRI

Faisal Abdalla • 13 Agustus 2019 13:34
Jakarta: Sarjono Kartosuwiryo, putra pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo, memilih berjuang lewat cara berbeda dengan ayahnya. Dia memilih ikut pemerintah untuk membangun negara. 
 
"Kenapa merasa berkhianat? Perjuangan itu kan berubah-ubah setiap saat. Dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya tidak ada, mau berjuang pakai apa?," kata Sarjono di kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Agustus 2019. 
 
Sarjono mengaku baru tergerak mengucapkan ikrar setia pada Pancasila lantaran memastikan dukungan pemerintah lebih dulu. Sejak pemberontakan DI/TII ditumpas pada 1962, kini saatnya seluruh pengikut organisasi kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Dia membantah dibayar pemerintah untuk mengucapkan ikrar. Sarjono menegaskan ikrar diucapkan lantaran ia membutuhkan NKRI. 
 
"Kita membela negara mau janji gak berjanji, gak dibayar. Tapi saya memang perlu dengan negara ini," ujarnya. 
 
(Baca juga: Eks Negara Islam Indonesia Ikrar Setia kepada Pancasila)
 
Negara Islam Indonesia atau dikenal Darul Islam dibentuk Sekarmaji pada 1949. Sekarmaji ingin mendirikan negara Indonesia berdasarkan Islam dengan mengaplikasikan syariat Islam. 
 
Keluarga besar Harokah Islam Indonesia, eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan eks Negara Islam Indonesia (NII) berikrar setia kepada Pancasila dan NKRI. Ikrar ini disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto.
 
Dalam ikrar ini, eks DI/TII dan NII berjanji setia kepada NKRI dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mereka berjanji menjaga persatuan dalam masyarakat majemuk agar tercipta keharmonisan, toleransi, kerukunan dan perdamaian untuk mencapai tujuan nasional.  
 
Mereka juga menegaskan menolak organisasi dan aktivitas yang bertentangan dengan Pancasila. Serta berjanji meningkatkan kesadaran bela negara dengan mengajak komponen masyarakat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. 
 
Selain Sarjono, eks DI/TII dan NII yang turut menjadi peserta ikrar adalah Aceng Mi'raj Mujahidin Sibaweh, H. Yudi Muhammad Auliya, KH. Dadang Fathurrahman, Yana Suryana, Deden Hasbullah, Ahmad Icang Rohiman, Mamat Rohimat, Dadang Dermawan, Eko Hery Sudibyo, Cepi Ardiansyah, Nandang Syuhada, Deris Andrian dan Ali Abdul Adhim. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>