​Pernah Dipenjara, Penculik Soekarno Jadi Pahlawan Nasional

07 November 2014 18:36
medcom.id. Jakarta. Sukarni Kartodiwirjo memang nyaris tidak terlibat sama sekali dalam penyusunan dan pembacaan naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. Tetapi tanpa kenekatannya menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, barangkali sejarah perjalanan bangsa Indonesia akan bertolak belakang 180 derajat dari yang selama ini kita ketahui dan pelajari.
 
Pada masa itu Sukarni adalah satu dari sekian banyak pemuda pergerakan yang gregetan melihat wait and see Soekarno-Hatta menyikapi kekosongan kekuasan menyusul menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Dibantu oleh Wikana dan sekelompok pemuda di bawah pimpinan Sutan Syahrir, mereka pun menjadi eksekutor upaya menjauhkan Soekarno-Hatta dari 'pengaruh' pemerintahan transisi Jepang yang berniat mengembalikan Indonesia kepada Belanda.
 
Sukarni dan Wikana pun menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Di sana terjadi perdebatan panjang di antara mereka hingga akhirnya Soekarno-Hatta berhasil diyakinkan untuk secepatnya memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang sedang terjadi untuk memproklamasikan kemerdekaan RI.  Setelah itu proses persiapan proklamasi pun langsung dikebut.

Sukarni adalah anak pedagang sapi yang lahir di Blitar pada 1916 yang masa kecilnya diisi dengan serangkaian perkelahian dengan sinyo-sinyo Belanda. Meski tinggal di Blitar, perkenalan Sukarni dengan Soekarno terjadi di Jakarta ketika menempuh pendidikan calon guru. Sejak itu Sukarnin makin terlibat dalam organisasi pemuda pergerakan dan aktifitas politik.
 
Pasca proklamasi kemerdekaan, Sukarni mengusulkan pembentukan lembaga parlemen KNIP yang kemudian berkembang menjadi DPR dan MPR. Sukarni pulalah yang memperjuangkan pembentukan Badan Pekerja KNIP sebagai lembaga negara yang mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus pemimpin rakyat. 
 
Hubungannya dengan Soekarno pun terbilang unik. Meski dua pemuda asal Blitar ini bersahabat erat, namun keduanya punya perbedaan pandangan politik yang sangat tajam. Sebagai anggota konstituante dari Partai Murba yang dibentuknya pada November 1948, Sukarni terang-terangan menentang kebijakan Soekarno yang dinilainya perlu dikoreksi.
 
Pada 1961 Soekarno menunjuk Sukarni sebagai Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Tiongkok. Sekembalinya ke Indonesia pada 1964, dia menemui Presiden Soekarno dan di Istana Bogor dan  memperingatkannya untuk mewaspadi sepak terjang PKI. Sebagai balasannya, Soekarno membekukan Partai Murba dan memenjarakan Sukarni beserta seluruh pemimpin Partai Murba.
 
Sukarni baru dibebaskan dari penjara pada 1966 oleh rezim Orde Baru. Setahun kemudian Sukarni kemudian ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI. Sukarni wafat pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.
 
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sukarni disampaikan oleh Presiden Jokowi selaku Kepala Negara di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Jumat (7/11/2014). Penganugerahan gelar kepada tokoh yang dianggap sangat berjasa bagi bangsa Indonesia tersebut merupakan bagian rangkaian peringatan Hari Pahlawan yang akan jatuh pada 10 November mendatang.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>