Jokowi Ingin Pelajar Muhammadiyah Jadi Presiden

Achmad Zulfikar Fazli 19 November 2018 18:07 WIB
muhammadiyah
Jokowi Ingin Pelajar Muhammadiyah Jadi Presiden
Presiden Joko Widodo saat kunjungan kerja di Jawa Timur. Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli.
Sidoarjo: Presiden Joko Widodo berharap anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah bisa sukses. Bahkan, dia ingin salah satu dari mereka menjadi presiden pada masa keemasan Indonesia, 2045.

"Nanti 2045 umur berapa? Umur 40-an pas itu, pas ada yang jadi menteri, wakil presiden, presiden," kata Jokowi dalam acara pembukaan Mukernas ke-21 Ikatan Pelajar Muhammadiyah, di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, 19 November 2018.

Menurut dia, saat ini banyak kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang sukses. Ada yang menjadi pejabat negara maupun politikus ulung.


Dia mencontohkan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Busyro Muqoddas. Busyro pernah menjadi ketua Komisi Yudisial (KY) dan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Adapula, Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Thohari yang pernah menjadi duta besar Indonesia di Beirut. Kemudian, ada Haedar Nashir menjadi ketua umum PP Muhammadiyah dan istrinya, Siti Noordjannah Djohantini, menjadi ketua umum PP Aisyiyah. 

Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah pun ada yang sukses di dunia politik. Mereka antara lain, Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta serta politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko.

"Saudara-saudara semuanya yang hadir di sini adalah generasi penerusnya," ucap dia.

Namun, dia menilai ada beberapa hal membedakan generasi saat ini dengan terdahulunya. Kini, lanjut dia, para pelajar sudah mulai digandrungi dengan dunia digital. Mayoritas pelajar tak bisa lepas dari smartphone.

Baca: Presiden Jokowi Didemo saat Berpidato

Dia mengakui menggunakan smartphone baik untuk menambah pengetahuan para pelajar. Berbagai ilmu pengetahuan bisa dicari di internet atau media sosial lewat smartphone. 

Namun, dia mewanti-wanti agar para pelajar pintar dan bijak dalam memilah informasi, utamanya di media sosial. Dia tak ingin ucapan-ucapan negatif bermunculan di media sosial.

"Banyak hal yang baik di internet tetapi tidak semua yang ada di internet dan media sosial ini berisi kebaikan. Banyak ujaran kebencian, banyak hoaks. Bahkan banyak juga ajakan-ajakan yang menyesatkan," pungkas dia.



(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id