medcom.id, Jakarta: Yoyok Riyo Sudibyo dianggap berhasil memimpin Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Akibat keberhasilannya itu, Yoyok dipaksa melanjutkan kepemimpinannya untuk periode kedua.
"Dari Rp67 miliar (di 2011) menjadi Rp187 miliar di tahun 2015. Ini sebuah perubahan yang tidak tiba-tiba. Itu suatu usaha yang keras. Kita ucapkan salut dan terima kasih kepada bupati yang meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) kita," kata Tokoh Masyarakat Batang di Jakarta Irjen Pol (Purn) Suprapto di Gedung Joang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/6/2016).
Suprapto mengakui jumlah PAD yang besar tidak otomatis membuat masyarakat setempat menjadi sejahtera. Akan tetapi, dengan jumlah PAD yang besar dapat mendorong dan memperbanyak sarana dan prasarana agar kesejahteraan itu terwujud.
"Kita harus dukung sepenuhnya, melalui kerja keras dan kerja cerdas," ujar Suprapto.
Tokoh Batang lainnya, Imam Bukhari menambahkan banyak potensi yang dapat digenjot agar PAD terus meningkat. Setidaknya PAD dalam lima tahun mendatang mencapai Rp500 miliar. Di antaranya melalui potensi perdagangan, pariwisata, industri dan perikanan.
"Saya berharap (kepemimpinan Yoyok) di Batang mesti dilanjutkan," ujar dia.
Aksi Paksa Memaksa
Yoyok berkali-kali berjanji tidak akan maju lagi sebagai bupati pada Pilkada serentak 2017 mendatang. Namun masyarakat tidak mau tahu dengan janji Yoyok tersebut.
"Awal menjabat di Batang, saya hanya ingin lima tahun. Dan (sebagai) orang Batang yang muslim, yang dipegang itu sumpahnya. Kalau tidak bisa dipegang apa lagi? Saya sekarang sudah sampai tahun keempat," kata Yoyok.
Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo usai pelantikan, 13 Februari 2012.Dok/Istimewa
Yoyok berharap tokoh-tokoh Batang yang sukses di perantauan kembali ke Batang. Yoyok ingin mereka menggantikan peran Yoyok sebagai bupati.
"Saya minta izin, ikhlaskan kami selesai lima tahun. Karena sudah selesai kontrak. Aku ngajak sampeyan balik. Gantiin aku. Jangan sukses di daerah rantau saja. Apapun keadaan saudara sekarang, itu awalnya tumbuh dari Batang. Kalau hanya sukses di luar sana percuma." ucap dia.
Aksi paksa dan memaksa pun terjadi. Yoyok menjanjikan tiket pulang ke kampung halaman gratis untuk agar tokoh Batang yang sukses di tanah rantau menjadi bupati.
"Besok aku carikan tiket. Pulang. Balik. Bantu masyarakat Batang yang waras. Batang butuh saudara. Gantian. Aku mau balik ke Jakarta. Rumahku, sudah ditinggal lama. Kelelep (tidak terurus)," kata Yoyok.
Sementara masyarakat Batang bersikeras menolak tawaran Yoyok. Mereka mendesak Yoyok agar mau dicalonkan lagi. Tidak boleh ada kata tidak.
"Soal sumpah, janji yang tidak bayar bisa dibatalkan. Kita akan minta fatwa kepada para kiyai. Setuju?," kata Suprapto dan diamini sebagian besar ratusan warga Batang yang hadir dalam kesempatan itu.
Suprapto khawatir jika Yoyok hilang dari peredaran, maka Batang kembali lagi terpuruk seperti sebelum ada sentuhan Yoyok. Suprapto melihat peluang Yoyok sangat besar agar bisa mengabdi lagi di periode ke dua.
Tokoh Masyarakat Batang lainnya, Marsekal Pertama (Purn) Bambang ikut menjadi provokator agar Yoyok mau dicalonkan lagi. Bambang mengimbau masyarakat Batang berpikir cerdas.
"Kalau (Yoyok) mundur, marilah rakyat Batang berpikir cerdas (melarangnya). Pak Yoyok janji atau sumpahnya bisa terhapus, kalau rakyat Batang inginkan bapak. Kita harus lihat manfaat dan mudharatnya," kata dia.
Yoyok menyempatkan diri hadir di Jakarta dalam rangka silaturahim warga perantauan sekaligus berbuka bersama. Ratusan warga hadir dan tetap antusias, walau hujan lebat sempat mengguyur tenda acara.
medcom.id, Jakarta: Yoyok Riyo Sudibyo dianggap berhasil memimpin Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Akibat keberhasilannya itu, Yoyok dipaksa melanjutkan kepemimpinannya untuk periode kedua.
"Dari Rp67 miliar (di 2011) menjadi Rp187 miliar di tahun 2015. Ini sebuah perubahan yang tidak tiba-tiba. Itu suatu usaha yang keras. Kita ucapkan salut dan terima kasih kepada bupati yang meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) kita," kata Tokoh Masyarakat Batang di Jakarta Irjen Pol (Purn) Suprapto di Gedung Joang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/6/2016).
Suprapto mengakui jumlah PAD yang besar tidak otomatis membuat masyarakat setempat menjadi sejahtera. Akan tetapi, dengan jumlah PAD yang besar dapat mendorong dan memperbanyak sarana dan prasarana agar kesejahteraan itu terwujud.
"Kita harus dukung sepenuhnya, melalui kerja keras dan kerja cerdas," ujar Suprapto.
Tokoh Batang lainnya, Imam Bukhari menambahkan banyak potensi yang dapat digenjot agar PAD terus meningkat. Setidaknya PAD dalam lima tahun mendatang mencapai Rp500 miliar. Di antaranya melalui potensi perdagangan, pariwisata, industri dan perikanan.
"Saya berharap (kepemimpinan Yoyok) di Batang mesti dilanjutkan," ujar dia.
Aksi Paksa Memaksa
Yoyok berkali-kali berjanji tidak akan maju lagi sebagai bupati pada Pilkada serentak 2017 mendatang. Namun masyarakat tidak mau tahu dengan janji Yoyok tersebut.
"Awal menjabat di Batang, saya hanya ingin lima tahun. Dan (sebagai) orang Batang yang muslim, yang dipegang itu sumpahnya. Kalau tidak bisa dipegang apa lagi? Saya sekarang sudah sampai tahun keempat," kata Yoyok.
Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo usai pelantikan, 13 Februari 2012.Dok/Istimewa
Yoyok berharap tokoh-tokoh Batang yang sukses di perantauan kembali ke Batang. Yoyok ingin mereka menggantikan peran Yoyok sebagai bupati.
"Saya minta izin, ikhlaskan kami selesai lima tahun. Karena sudah selesai kontrak. Aku ngajak sampeyan balik. Gantiin aku. Jangan sukses di daerah rantau saja. Apapun keadaan saudara sekarang, itu awalnya tumbuh dari Batang. Kalau hanya sukses di luar sana percuma." ucap dia.
Aksi paksa dan memaksa pun terjadi. Yoyok menjanjikan tiket pulang ke kampung halaman gratis untuk agar tokoh Batang yang sukses di tanah rantau menjadi bupati.
"Besok aku carikan tiket. Pulang. Balik. Bantu masyarakat Batang yang waras. Batang butuh saudara. Gantian. Aku mau balik ke Jakarta. Rumahku, sudah ditinggal lama. Kelelep (tidak terurus)," kata Yoyok.
Sementara masyarakat Batang bersikeras menolak tawaran Yoyok. Mereka mendesak Yoyok agar mau dicalonkan lagi. Tidak boleh ada kata tidak.
"Soal sumpah, janji yang tidak bayar bisa dibatalkan. Kita akan minta fatwa kepada para kiyai. Setuju?," kata Suprapto dan diamini sebagian besar ratusan warga Batang yang hadir dalam kesempatan itu.
Suprapto khawatir jika Yoyok hilang dari peredaran, maka Batang kembali lagi terpuruk seperti sebelum ada sentuhan Yoyok. Suprapto melihat peluang Yoyok sangat besar agar bisa mengabdi lagi di periode ke dua.
Tokoh Masyarakat Batang lainnya, Marsekal Pertama (Purn) Bambang ikut menjadi provokator agar Yoyok mau dicalonkan lagi. Bambang mengimbau masyarakat Batang berpikir cerdas.
"Kalau (Yoyok) mundur, marilah rakyat Batang berpikir cerdas (melarangnya). Pak Yoyok janji atau sumpahnya bisa terhapus, kalau rakyat Batang inginkan bapak. Kita harus lihat manfaat dan mudharatnya," kata dia.
Yoyok menyempatkan diri hadir di Jakarta dalam rangka silaturahim warga perantauan sekaligus berbuka bersama. Ratusan warga hadir dan tetap antusias, walau hujan lebat sempat mengguyur tenda acara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)