Pakar pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto. Metro TV
Pakar pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto. Metro TV

Selamat Pagi Indonesia

Ramai Ujaran Kebencian Politisi, Pakar: Pejabat Publik Harus Peka saat Bicara

Nasional media sosial rasisme ujaran kebencian Ibu Kota Baru Selamat Pagi Indonesia
MetroTV • 24 Januari 2022 15:54
Jakarta: Anggota DPR fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan dan eks caleg PKS Edy Mulyadi terseret kasus ujaran kebencian. Pakar pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto menilai keduanya tak peka saat mengeluarkan pendapat.
 
“Saat sudah menjadi bagian dari pelayan publik dan berada dalam jabatan publiknya, seseorang harus memiliki kepekaan komunikasi atau sensitivitas retoris pada saat menyampaikan pernyataan-pernyataan, terlebih di muka publik,” kata Gun Gun dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Senin, 24 Januari 2022.
 
Arteria meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang menggunakan bahasa Sunda dicopot. Sementara, Edy merendahkan calon ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur dengan sejumlah sebutan, di antaranya  ‘tempat jin membuang anak’.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gun Gun menyebut ada manajemen privasi dalam perspektif komunikasi politik. Manajemen privasi dalam konteks ini melibatkan kepekaan dan kecermatan untuk mengelola pernyataan yang dapat dibuka kepada khalayak luas, dan pernyataan yang sepatutnya ditutup.
 
Terlebih, bila pernyataan bersifat sensitif bagi masyarakat Indonesia yang menjunjung kebinekaan. Dia menyebut ada tiga pilar komunikasi persuasi menurut Aristoteles, yakni ethos, pathos, dan logos.
 
Ethos berkaitan dengan kredibilitas komunikator. Pathos berkaitan dengan emosional. Sementara itu, logos merupakan argumentasi yang disampaikan komunikator.
 
“Bukan hanya argumentasi, tapi juga kredibilitas komunikator dan perasaan dari komunikan yang kemudian mendengar, menafsirkan, serta merasa terlibat dalam setiap sentimen yang terbangun dari narasi-narasi yang disampaikan,” ujar Gun Gun.
 
Di sisi lain, politisi sebagai pribadi harus mengingat politik asosiatif. Diri politikus terikat dengan organisasi atau lembaga tertentu.
 
Dalam kasus Arteria dan Edy, nama partai politik turut tercoreng dalam pemberitaan media massa dan perbincangan media sosial. Pihak PDI Perjuangan dan PKS pun membuka suara untuk menyatakan bahwa tindakan keduanya tidak mencerminkan pandangan partai. (Kaylina Ivani)

 
(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif