Jakarta: Sejumlah mantan aktivis 98 melakukan refleksi dan evaluasi terhadap 20 tahun perjalanan reformasi. Mereka menilai elite yang berkuasa pascatumbangnya orde baru telah berkhianat.
"Di antara pengkhianatan itu adalah masih meluasnya praktik korupsi, dan demokrasi berbiaya tinggi dalam Pemilu, Pilkada dan Pilpres," kata perwakilan mantan aktivis 98 Aznil Tan dalam keterangan tertulis, Selasa, 22 Mei 2018.
Menurut Aznil, mantan aktivis 98 adalah pelaku sejarah yang memiliki tanggung jawab perubahan pada republik ini. Yaitu agar republik ini terbebas dari sistem yang otoriter, koruptif, komprador, kapitalis dan militeristik.
"Bahwa dari fakta sejarah tersebut menjadi dasar para aktivis 98 di usia 20 tahun perjalanan reformasi terpanggil bukan lagi sebagai gerakan moral, tetapi menjadi gerakan politik untuk merebut kekuasaan dalam mewujudkan cita-cita luhur reformasi yang diperjuangkan dengan nyawa, darah dan air mata," beber dia.
Baca: Aktivis 98, Berbagi Lapak Berbagi Peran
Aznil menambahkan, pihaknya khawatir tujuan reformasi terus menyimpang. Sehingga mau tidak mau, pihaknya akan membuat gerakan politik sebagai upaya menyelamatkan Indonesia dari kebobrokan pengelola negara dan ancaman kehancuran negara.
"Kami mengimbau agar mantan aktivis 98 lainnya dapat terus menyatukan diri membangun kekuatan untuk berkuasa dan tidak pasrah dengan keadaan, sebagaimana kekuatan dibangun pada tahun 1998 dulu," ucap dia.
Jakarta: Sejumlah mantan aktivis 98 melakukan refleksi dan evaluasi terhadap 20 tahun perjalanan reformasi. Mereka menilai elite yang berkuasa pascatumbangnya orde baru telah berkhianat.
"Di antara pengkhianatan itu adalah masih meluasnya praktik korupsi, dan demokrasi berbiaya tinggi dalam Pemilu, Pilkada dan Pilpres," kata perwakilan mantan aktivis 98 Aznil Tan dalam keterangan tertulis, Selasa, 22 Mei 2018.
Menurut Aznil, mantan aktivis 98 adalah pelaku sejarah yang memiliki tanggung jawab perubahan pada republik ini. Yaitu agar republik ini terbebas dari sistem yang otoriter, koruptif, komprador, kapitalis dan militeristik.
"Bahwa dari fakta sejarah tersebut menjadi dasar para aktivis 98 di usia 20 tahun perjalanan reformasi terpanggil bukan lagi sebagai gerakan moral, tetapi menjadi gerakan politik untuk merebut kekuasaan dalam mewujudkan cita-cita luhur reformasi yang diperjuangkan dengan nyawa, darah dan air mata," beber dia.
Baca: Aktivis 98, Berbagi Lapak Berbagi Peran
Aznil menambahkan, pihaknya khawatir tujuan reformasi terus menyimpang. Sehingga mau tidak mau, pihaknya akan membuat gerakan politik sebagai upaya menyelamatkan Indonesia dari kebobrokan pengelola negara dan ancaman kehancuran negara.
"Kami mengimbau agar mantan aktivis 98 lainnya dapat terus menyatukan diri membangun kekuatan untuk berkuasa dan tidak pasrah dengan keadaan, sebagaimana kekuatan dibangun pada tahun 1998 dulu," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)