Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR Willy Aditya. Istimewa
Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR Willy Aditya. Istimewa

Politik Tanpa Gagasan Dinilai Lahirkan Selebrasi Miskin Substansi

Nasional Partai NasDem pemilu Demokrasi Indonesia DPR RI
Surya Perkasa • 19 Maret 2021 23:14
Jakarta: Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR, Willy Aditya, menyebut politik tanpa gagasan hanya menghadirkan selebrasi yang miskin substansi. Politik Indonesia tak boleh sekadar menjadi pesta demokrasi rutinitas tanpa makna.
 
"Banyak orang menganggap politik hanya identik dengan pesta demokrasi lima tahunan. Padahal idealnya, politik adalah tentang pertarungan gagasan," ujar Willy dalam Parliament's Lecture yang digelar Fraksi Partai NasDem DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 19 Maret 2021.
 
Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR itu mencoba menghadirkan praktik politik gagasan dengan menginiasi kuliah umum bagi legislator tersebut. Setiap diskursus politik harus didasarkan pada gagasan dan kepentingan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami mendedikasikan forum ini untuk membuat parlemen yang jernih agar kemudian menjadi dialektika kita bersama," kata anggota Komisi XI DPR RI itu.
 
Baca: Kritik ke Pemerintah Bagian Proses Demokrasi
 
Wakil rakyat dari dapil Jawa Timur XI (Bangkalan, Pamekasan, Semenep, Sampang) itu juga mengatakan, Parliament's Lecture tersebut diharapkan bisa mengembalikan politik kepada khitahnya.
 
"Ini sesuai amanah dari Ketua Umum Partai NasDem, Bapak Surya Paloh, yaitu bagaimana partai itu didirikan dengan sebuah basis pemikiran dengan politik gagasan, tidak hanya sirkulasi kekuasan," tegas Legislator NasDem tersebut.
 

Kembali memunculkan gagasan di tengah dewan

Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robet Robertus Robet mengapresiasi cara Fraksi Partai NasDem DPR kembali memunculkan gagasan di tengah dewan. Tema Republik yang diusung dalam Parliament's Lecture menunjukkan NasDem peduli soal gagasan dalam politik.
 
"Saya memberikan penghargaan dan terima kasih kepada Fraksi Partai NasDem. Karena, untuk kali pertama sejak 1945 ide tentang republik dibicarakan kembali di badan perwakilan rakyat," ujar Robert.
 
Republikanisme, kata Robet, merupakan dasar dari perpolitikan Indonesia yang merdeka. Dia menilai kerangka dasar tersebut tak sempat ditanamkan ke publik sehingga agama, ras, etnis, dan pandangan personal serta kekeluargaan lebih menentukan daripada rasionalitas publik.
 
Sementara Professor of Comparative Political Anthropology University of Amsterdam, Ward Barenschot, menyebut Indonesia perlu gagasan untuk memperbaiki sistem pemilu. Hal ini perlu dilakukan agar demokrasi Indonesia bisa maju.
 
"Sistem pemilihan di Indonesia memerlukan biaya yang tinggi. Masalah yang ditimbulkan dari biaya yang tinggi tersebut tidak hanya untuk pengamat tetapi juga untuk politisi sendiri," ujar Ward.
 
(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif