ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Punya Mesin Partai, Ganjar Dinilai Lebih Berpeluang Menang dengan Airlangga

Al Abrar • 08 Maret 2023 18:23
Jakarta: Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyarankan Ganjar Pranowo berduet dengan Airlangga Hartarto di Pilpres 2024. Airlangga dinilai punya mesin partai dibandingkan Erick Thohir.
 
"Kenapa Ganjar-Airlangga lebih berpotensi, karena Erick bukan kader partai, enggak punya mesin partai, hanya mengandalkan figur dan logistik. Figur dan logistik dalam pilpres enggak ada jaminan juga," kata Pangi saat dihubungi, Rabu, 8 Maret 2023.
 
Ia mengatakan, mesin Partai Golkar otomatis akan bekerja saat ketua umumnya menjadi peserta pemilihan presiden, meski hanya cawapres. Faktor itu juga menjadikan potensi pasangan Ganjar-Airlangga untuk menang Pilpres lebih signifikan dibanding pasangan Ganjar-Erick. 

"Kalau mesin partai kan enggak mungkin juga bergerak kalau Ganjar-Erick. Kenapa? Karena enggak ada nyangkut dengan Golkarnya. Nah kalau ada Airlangga kan pasti mesin partai bergerak, berikhtiar untuk berupaya menangkan Ganjar-Airlangga," tambahnya.
 
Selain kekuatan mesin partai, Pangi menilai Golkar dalam Pilpres saat ini berbeda dengan dua pilpres sebelumnya. Golkar dalam pilpres-pilpres sebelumnya tidak mempermasalahkan capres atau cawapresnya menang atau kalah. Sebab, Golkar akan selalu dapat kursi menteri siapapun presidennya.
 
Baca: Zulhas Singgung Ganjar-Erick pada Rakornas, Golkar Ingatkan Kesepakatan Bersama
 
Berbeda dengan Golkar saat ini yang memiliki ambisi dengan mensyaratkan kader partainya untuk menjadi capres atau cawapres. 
 
"Karena bagi Golkar dulu, mau kalah mau menang ngga ada masalah dalam pilpres. Masalahnya sekarang Golkar nggak mau absen dalam mengusung capres atau cawapres," ujarnya.
 
Sementara disisi lain, dua partai lainnya yang ada dalam Koalisi Indonesia Bersatu yakni PAN dan PPP tidak mensyaratkan kadernya menjadi calon di pilpres. Kedua partai dinilai tidak memiliki ambisi, sehingga muncul nama-nama diluar kader seperti Erick Thohir untuk dicalonkan.
 
"Bagaimana mungkin partai enggak punya ambisi mengusung kadernya sendiri. Itu yang menurut saya aneh bin ajaib," tegasnya.
 
Pangi mengaku heran munculnya nama Ganjar-Erick dari PAN sebagai capres dan cawapres. Alasannya, dua nama itu tidak mewakili satu pun kader internal ketiga partai yang tergabung dalam koalisi.
 
Menurutnya itu tidak sesuai dengan kesepakatan awal yang mereka lempar ke publik bahwa capres yang akan diusung berasal dari kader mereka sendiri.
 
"Kalo Ganjar-Airlangga, masih ada Airlangganya di KIB. Kalo PAN mengusung Ganjar-Erick ya enggak ada kader yang dari KIB, Itu yang jadi persoalan," tambahnya.
 
Hal senada juga disampaikan, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskor. Ia menilai Ganjar akan lebih solid berpasangan dengan Airlangga ketimbang Erick. 
 
Peluang pasangan ini memenangkan kontestasi pilpres 2024 lebih terbuka meski harus bersaing dengan nama nama kuat seperti Prabowo Subianto.
 
"Ganjar-Airlangga lebih solid karena faktor Airlangga sebagai motor KIB. Dan di titik ini, solidititas KIB sebagai koalisi bisa terjaga," ujarnya,  Selasa, 7 Maret 2023.
 
Baskoro mengatakan dari sisi kekuatan politik pasangan itu mewakili dua partai besar yakni PDI-P dan Golkar yang bisa menjamin stabilitas kekuasaan di masa mendatang. 
 
Golkar memiliki infrastruktur politik yang besar dan terbukti mampu menopang kekuasaan pemerintah dari rezim ke rezim.
 
"Sehingga jika PDIP dan Golkar berkoalisi otomatis gabungan kekuatan politik keduanya akan mampu memberi efek psikologis politik soal stabilitas dan kelanjutan pemerintahan," tegasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan