Jakarta: Jusuf Kalla (JK) dua kali merasakan kursi wakil presiden dalam 15 tahun terakhir. Pada 2004-2009, JK mendampingi Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan menjadi wakil dari Presiden ke-7 Joko Widodo dalam periode 2014-2019.
JK menilai SBY dan Jokowi memiliki kelebihan. Namun, kedua tokoh bangsa itu memiliki cara kerja yang berbeda.
Pada zaman pemerintahan SBY, ada pembagian tugas antara presiden dan wakil presiden. Sehingga, dia juga bisa fokus dalam bekerja.
“Saya lebih banyak mengurus masalah-masalah ekonomi atau masalah kesejahteraan, juga masalah perdamaian,” kata JK saat berbicang dengan Medcom.id di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat, 19 Juli 2019.
Pembagian tugas tersebut dilakukan atas kesepakatan bersama sejak awal pemerintahan. Tujuannya, agar roda pemerintahan berjalan lebih lancar.
“Itu kesepakatan kami berdua supaya lebih efisien,” ujar dia.
Namun, sistem pembagian tugas itu tidak diterapkan oleh Jokowi. Mantan Wali Kota Solo itu, kata JK, cenderung kolektif dalam bekerja. Semua hal harus dirapatkan dan keputusan diambil secara bersama-sama.
"Jadi apa pun isu-isu dari besar sampai kecil, itu dirapatkan. Jadi kita ambil keputusan bersama-sama. Mulai dari masalah ekonomi besar, sampai urusan sampah," kata JK.
Jakarta: Jusuf Kalla (JK) dua kali merasakan kursi wakil presiden dalam 15 tahun terakhir. Pada 2004-2009, JK mendampingi Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan menjadi wakil dari Presiden ke-7 Joko Widodo dalam periode 2014-2019.
JK menilai SBY dan Jokowi memiliki kelebihan. Namun, kedua tokoh bangsa itu memiliki cara kerja yang berbeda.
Pada zaman pemerintahan SBY, ada pembagian tugas antara presiden dan wakil presiden. Sehingga, dia juga bisa fokus dalam bekerja.
“Saya lebih banyak mengurus masalah-masalah ekonomi atau masalah kesejahteraan, juga masalah perdamaian,” kata JK saat berbicang dengan
Medcom.id di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat, 19 Juli 2019.
Pembagian tugas tersebut dilakukan atas kesepakatan bersama sejak awal pemerintahan. Tujuannya, agar roda pemerintahan berjalan lebih lancar.
“Itu kesepakatan kami berdua supaya lebih efisien,” ujar dia.
Namun, sistem pembagian tugas itu tidak diterapkan oleh Jokowi. Mantan Wali Kota Solo itu, kata JK, cenderung kolektif dalam bekerja. Semua hal harus dirapatkan dan keputusan diambil secara bersama-sama.
"Jadi apa pun isu-isu dari besar sampai kecil, itu dirapatkan. Jadi kita ambil keputusan bersama-sama. Mulai dari masalah ekonomi besar, sampai urusan sampah," kata JK.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)