Sebutan 'Politik Sontoloyo' Merujuk pada Sikap

26 Oktober 2018 11:20 WIB
pilpres 2019
Sebutan 'Politik Sontoloyo' Merujuk pada Sikap
Pakar Psikologi Politik Hamdi Muluk. (Foto: MI/Adam Dwi)
Jakarta: Penggunaan istilah 'politik sontoloyo' yang dilontarkan Presiden Joko Widodo tempo hari dinilai bukanlah kesalahan. Pakar Psikologi Politik Hamdi Muluk menyebut pernyataan Presiden merujuk pada sikap politikus yang hanya mementingkan kekuasaan.

"Konotasinya memang negatif, sesuatu yang buruk. Tapi kalau (penggunaan kata sontoloyo) seperti itu enggak ada yang salah," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Editorial Media Indonesia, Jumat, 26 Oktober 2018.

Menurut Hamdi yang disampaikan presiden sebenarnya merupakan peringatan kepada semua orang, bukan ditujukan ke orang atau kelompok tertentu saja. Istilah yang sama juga pernah digunakan Presiden Soekarno untuk menggambarkan muslim yang tidak memahami ajaran Islam secara utuh. 


Ia menambahkan penggunaan istilah sontoloyo oleh Presiden merujuk pada situasi politik saat ini ketika sejumlah politikus menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Caci maki, hoaks, adu domba, bahkan politik kebohongan yang tidak membawa bangsa ke politik bermartabat sebagai negara demokrasi.

"Ini warning, peringatan saja untuk kita semua dengan memakai kata sontoloyo itu. Jadi, (maksudnya) hati-hati banyak politikus yang sontoloyo," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id