Seorang anak bermain di atas gerobak di kawasan Karet, DKI Jakarta. Antara/Puspa Perwitasari
Seorang anak bermain di atas gerobak di kawasan Karet, DKI Jakarta. Antara/Puspa Perwitasari

Angka Kemiskinan Diprediksi Mencapai 12 Persen

Nur Azizah • 08 Mei 2020 17:49
Jakarta: Menteri Sosial Juliari P Batubara menyebut jumlah angka kemiskinan diprediksi bertambah sekitar tiga persen akibat pandemi covid-19. Data ini didapat berdasarkan pengkajian sejumlah lembaga survei.
 
"Kami masih mendata karena program jaring pengaman sosial masih berjalan. Kami antisipasi jumlah keluarga miskin pascapandemi covid akan bertambah jadi 10 persen sekian persen atau bahkan ada yang ekstrem 12 persen," kata Juliari di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Mei 2020.
 
Berdasarkan data dari Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, angka kemiskinan saat ini telah mencapai 9,2 persen. Ia meminta seluruh RT dan RW mendata ulang keluarga miskin di lingkungannya masing-masing.

"Sekarang dalam proses menghimpun data-data lagnsung dari RT/RW kita akan olah untuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS)," ungkapnya.
 
Baca: Indonesia Negara Kedua Terbanyak Covid-19 di ASEAN
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi tingkat kemiskinan melonjak imbas pandemi virus korona. Bahkan angka kemiskinan diramal kembali drop seperti 2011.
 
"Bayangkan hanya covid yang terjadi beberapa bulan, semua pencapaian penurunan kemiskinan dari 2011 sampai 2020 ini mengalami reverse kembali," kata Ani, sapaan Sri Mulyani, dalam rapat virtual dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2020.
 
Ani mengungkapkan angka kemiskinan pada 2011 sebanyak 29,89 juta orang atau 12,36 persen. Namun, angka tersebut turun di September 2019 menjadi 24,79 juta orang atau 9,22 persen.
 
Karena itu, pemerintah membuat sejumlah program bantuan sosial (bansos) sebagai jaring pengaman sosial (social safety net) bagi masyarakat yang terdampak. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp110 triliun.
 
Ani menambahkan gini rasio juga akan mengalami tekanan imbas covid-19. Pasalnya, pandemi tersebut berdampak hampir ke seluruh lapisan masyarakat.
 
"Dari sisi sosial ekonomi, karena ada pembatasan sosial, yang terkena justru 40 sampai 50 persen masyarakat terbawah sehingga kemungkinan gini ratio tertekan, masyarakat bawah dan menengah tekanan lebih besar. Untuk 30 persen masyarakat top (atas), dalam situasi konsolidasi," terangnya.
 
Berdasarkan data BPS gini rasio pada September 2019 sebesar 0,380. Angka ini mengalami penurunan tipis dari rasio gini pada Maret 2019 yang sebesar 0,382
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SUR)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>