Ilustrasi DPR. Medcom.id
Ilustrasi DPR. Medcom.id

Ambang Batas Tidak Efektif Menyederhanakan Partai di Parlemen

Nasional pemilu revisi uu pemilu
Anggi Tondi Martaon • 28 Juni 2020 15:17
Jakarta: Kenaikan Ambang batas dianggap tidak efektif menyederhanakan jumlah partai di parlemen. Ini terlihat pada jumlah partai yang lolos ke parlemen pada Pemilu 2009 dan 2014.
 
Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Heroik M. Pratama menyampaikan penilaian ini berdasarkan indeks effective number of parliamentary parties (ENPP). Ketentuan ini mengategorikan sistem multipartai di parlemen, yaitu multipartai sederhana (1-5) dan ekstrem (di atas 5)
 
Pada Pemilu 2009, jumlah partai politik (parpol) yang lolos ke parlemen sebanyak sembilan parpol dari 38 peserta Pemilu. Saat itu, ambang batas parlemen yang ditetapkan yaitu 2,5 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nyatanya sistem kepartaian kita tetap multipartai ekstrem. Indeks ENPP yaitu 6,6 (persen)," kata Heroik dalam diskusi virtual di Jakarta, Minggu, 28 Juni 2020.
 
Baca: Perludem Ingin Penghitungan Ambang Batas Parlemen Diperjelas
 
Pemerintah dan DPR sepakat menaikkan ambang batas parlemen pada Pemilu 2014 menjadi 3,5 persen. Kenaikan ambang batas tersebut justru membuat parpol yang lolos ke DPR bertambah menjadi 10 parpol pada Pemilu 2014.
 
"Sekalipun ada 10 partai di parlemen tapi partainya tetap multipartai ekstrem. Indeksnya ENPP 8,2," ungkap dia.
 
Upaya serupa juga dilakukan pada Pemilu 2019 dengan menaikkan ambang batas parlemen menjadi empat persen. Namun, jumlah partai dan indeks ENPP tidak berkurang signifikan.
 
"Pada 2019, jumlah peserta yang lolos ke parlemen sebanyak sembilan parpol. Sementara indeks ENPP 7,2," ujar dia.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif