Ragil Mahardika bersama pasangannya di youtube Deddy Corbuzier (Foto: instagram)
Ragil Mahardika bersama pasangannya di youtube Deddy Corbuzier (Foto: instagram)

Figur Publik Diingatkan Kebebasan Berekspresi Dibatasi Norma

Nasional Youtube media sosial deddy corbuzier LGBT
Arga sumantri • 12 Mei 2022 02:26
Jakarta: Anggota Komisi I DPR Sukamta mengingatkan figur publik terkait kebebasan berekspresi. Figur publik diminta menyadari kalau kebebasan berekspresi yang dilindungi UUD 1945 memiliki batasan norma agama, sosial masyarakat, dan hukum.
 
"Sehingga tidak bebas sebebasnya tanpa batas ketika berekspresi di ruang publik," kata Sukamta dalam keterangannya, Rabu, 11 Mei 2022.
 
Pernyataan ini merespons konten artis Deddy Corbuzier yang mengundang pasangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di podcast. Konten itu menuai polemik dan meresahkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kasus tersebarluasnya konten yang dianggap publik mengkampanyekan mengenai isu LGBT meresahkan publik. Saya menyoroti mengenai kebebasan yang ada batasnya, bukan kebebasan liberal ala barat," ungkap dia.
 
Ia menekankan isu LGBT amat sensitif. Alih-alih memberikan edukasi mengenai LGBT, kata dia, konten yang dibagikan Deddy justru dianggap jadi kampanye yang mendukung LGBT. 
 
Sukamta menegaskan LGBT adalah penyakit. Maka, seharusnya orang yang mengidap LGBT diobati, bukan dipublikasikan kepada masyarakat.
 
"Banyak para ahli mengatakan LGBT itu penyaki maka harus diobati karena berpotensi menular. Penularan dimulai dengan preferensi pembenaran kemudian merembet ke keinginan untuk merealisasikan," ujar dia.
 
Baca: Soal LGBT, KPI Tegaskan Tidak Berwenang Awasi Konten Medsos
 
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengungkapkan panggung publik yang tersebar luas di media sosial akan membuat lahirnya preferensi pembenaran tentang LGBT. Sehingga, untuk menghentikan penyebarluasannya, LGBT tak boleh diberikan panggung.
 
Ia menegaskan pemangku kepentingan terkait juga harus memonitor tayangan-tayangan serupa. Jangan sampai, platform besar seperti YouTube digunakan untuk kampanye penyimpangan. 
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif