Keluarga keturunan pendiri atau Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dok. Istimewa
Keluarga keturunan pendiri atau Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dok. Istimewa

Menjelang Pelaksanaan Muktamar, Jam'iyyah NU Diimbau Tetap Jaga Persaudaraan

Nasional PBNU muktamar nahdlatul ulama nahdlatul ulama
Achmad Zulfikar Fazli • 02 Desember 2021 19:55
Jakarta: Keluarga keturunan pendiri atau Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Mereka membahas dinamika yang terjadi menjelang Muktamar ke-34 NU.
 
"Masing-masing datang atas inisiatif sendiri-sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang membiayai karena didasari oleh keprihatinan atas kondisi PBNU akhir-akhir ini,” ujar Dzurriyah KH Hasyim Asy'ari, KH Fahmi Amrullah Hadziq, dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 Desember 2021.
 
Gus Fahmi sapaan akrabnya, menyampaikan ada beberapa kesepakatan yang diambil Dzurriyah Muassis NU. Di antaranya, mengingatkan niatan para muassis mendirikan jam'iyyah NU adalah membangun ukhuwah atau persaudaraan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Maka kita berharap kepada para pengurus, hendaknya menjaga ukhuwah ini,” terang Gus Fahmi.
 
Dia menambahkan jangan sampai perbedaan menyebabkan perpecahan. Pesan para muassis ini harus dipegang teguh jam'iyyah NU.
 
"Para pengurus terutama hendaknya memegang dawuh (amanat) ini,” ujar Gus Fahmi.
 
Semua pihak juga diimbau mengedepankan akhlakul karimah dengan menjaga tradisi tabayun. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jangan mengeluarkan keputusan sendiri-sendiri.
 
"Karena bagaimanapun juga pengurus itu bukan personal tetapi kolektif kolegial. Jadi hendaknya keputusan itu diambil secara bersama-sama musyawarah untuk mufakat," tegas Gus Fahmi.
 
Baca: PBNU Tentukan Tanggal Muktamar Pekan Ini
 
Di samping itu, Dzurriyah Muassis NU berharap semua pihak, terutama kiai-kiai sepuh, menahan diri dan tidak melakukan aksi mendukung salah satu pihak. “Apa yang dilakukan oleh kiai-kiai ini memberikan dukungan kepada salah satu pihak akan berpotensi menyebabkan perpecahan. Jadi sebaiknya masing-masing bisa menahan diri," ujar Gus Fahmi.
 
Jika ingin memberikan dukungan kepada salah satu pihak, Gus Fahmi menyarankan sebaiknya tidak perlu dipublikasikan dan tidak diumumkan karena berpotensi memecah belah. Dia pun mengajak agar semua pihak ikut menjaga suasana tetap sejuk dan damai, sehingga semua yang dicita-citakan tercapai.
 
Sementara itu, Dzuriyyah KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Wahab Yahya (Gus Wahab), mengaku prihatin dengan kondisi NU menjelang muktamar. Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum itu menilai perpecahan akan terjadi bila polarisasi terus terjadi di Muktamar ke-34 NU.
 
“Sebagai Panglima Asparagus Nusantara, saya menyampaikan keprihatinan yang sedalam-dalamnya terkait proses berjalannya agenda muktamar. Yang berpotensi perpecahan nahdiyin akibat polarisasi dukung mendukung yang jauh dari akhlakul karimah dan jauh dari amanat pendiri Nahdlatul Ulama,” kata Gus Wahab.
 
Dia berharap semua bersama-sama berikhtiar agar tercapai perdamaian dan persatuan kembali dalam keluarga besar NU. Dia juga mendoakan agar Muktamar ke-34 NU diberikan keberkahan, kelancaran, dan kemaslahatan bagi umat NU dan masyarakat Indonesua.
 
Dalam kesempatan berbeda, pemimpin Pondok Pesantren Tanbihul Ghofiliin, KH Khayatul Makki (Gus Khayat), menyatakan dukungannya kepada hasil musyawarah Dzurriyah Muassis NU. Dia berharap hasil musyawarah itu dipatuhi dan dilaksanakan seluruh warga Nahdiyin.
 
"Sehingga NU dapat terus bersatu dan suasana jelang Muktamar ke-34 NU menjadi lebih sejuk, berlangsung dalam suasana kekeluargaan, dan dapat menghasilkan pemimpin terbaik yang kelak bermanfaat bagi kemajuan NU dan bangsa Indonesia,” ujar Gus Khayat.

Berikut imbauan Dzurriyah Muassis NU kepada PBNU dan Nahdiyin:

  1. Hendaknya semua pihak mengingat, bahwa niat para muassis mendirikan jam'iyyah NU adalah untuk membangun ukhuwah (persaudaraan). Karena itu kita wajib menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.
  2. Hendaknya semua pihak mengedepankan akhlakul karimah dengan menjaga tradisi tabayun menyangkut keputusan-keputusan penting. Semua keputusan PBNU bersifat kolektif kolegial (keputusan bersama), dan tidak mengambil keputusan sendiri-sendiri, baik jajaran syuriah maupun tanfidiziyah.
  3. Mengharap kepada semua pihak, terutama kiai-kiai sepuh, untuk menahan diri, tidak melakukan aksi dukung mendukung yang menimbulkan potensi perpecahan. Tradisi dukung-mendukung calon bukanlah tradisi ulama-ulama NU, karena jam'iyyah NU bukanlah parpol, sehingga ulama NU zaman dulu menjaga tradisi saling menolak jabatan.
Informasi seputar Muktamar ke-34 NU terus diperbarui. Klik di sini untuk mengetahui perkembangan informasinya.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif