RI Gandeng Uni Eropa Perkuat Manajemen Pertahanan Keamanan

Ilham Pratama Putra 01 Desember 2018 08:20 WIB
kerja sama
RI Gandeng Uni Eropa Perkuat Manajemen Pertahanan Keamanan
Head Department of International Relations CSIS Shafiah Muhibat (paling kiri) dan Political Adviser European Union Naval Force Operation Atlanta Paul Mitcham (paling kanan). Medcom.id/ Ilham Pratama
Jakarta: Centre for Strategic and International studies (CSIS) mengadakan diskusi publik terkait percepatan kerja sama antara Indonesia dengan Uni Eropa dalam bidang keamanan dan pertahanan.

Head Department of International Relations CSIS Shafiah Muhibat menyampaikan keamanan dan pertahanan bisa diraih jika ada koordinasi dan strategi antarnegara termasuk Uni Eropa.

"Dengan mengidentifikasi pertahanan dan keamanan bersama pihak lain guna penyatuan visi. Uni Eropa akan mampu membantu menjaga keamanan. Bahkan secara global. Tak hanya Indonesia," Ujar Shafiah di Gedung Pakarti, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat, 30 November 2018.


Political Adviser European Union Naval Force Operation Atlanta Paul Mitcham mengungkapkan tujuan kerja sama ini bukan hanya dalam hal manajemen pertahanan dan keamanan saja. Namun juga dalam hal yang lebih kompleks.

"Mulai dari strategi komunikasi, cyber security atau keamanan siber, kontraterorisme, dan reformasi sektor keamanan. Kemitraan ini bisa mempeluas jangkauan isu, lebih fleksibel dan tanggap terhadap kebutuhan mitra yang berada dalam kerja sama," jelas Paul.

Sementara itu  Head of the European Security Defence College (ESDC) Dirk Dubois menyampaikan apa yang akan menjadi fokus Uni Eropa dalam keamanan dan pertahanan. Hal itu dilakukan sebagai strategi global dalam kebijakan keamanan dan luar negeri Uni Eropa.

"Kita akan meningkatkan kerja sama strategi keamanan dan pertahanan secara international, non-Uni Eropa serta organisasi internasional, dan regional seperti PBB, NATO, OSCE, AU, dan ASEAN, untuk keamanan secara keseluruhan," tutur Dirk.

Dia bilang ada delapan poin kerja sama pertahanan dan keamanan yang menjadi fokus untuk 2019-2021, di antaranya:
1. Perempuan, perdamaian, dan keamanan 
2. Memperkuat kerja sama di lapangan dan stabilisasi global
3. Transisi dari konflik ke perdamaian
4. Memfasilitasi negara anggota Uni Eropa untuk mendukung dan berkontribusi dalam operasi damai PBB
5. Mencegah konflik dan mendukung proses serta solusi secara politis
6. Kerja sama kebijakan
7. Kerja sama dengan dan mendukung operasi damai Afrika, serta
8. Pelatihan dan pengembangan sumber daya.



(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id