Kasus Ratna Momentum Lepas dari Politik Kebohongan
Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
Jakarta: Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ikrama Masloma menyebut kasus Ratna Sarumpaet membuka mata publik bahwa politik Indonesia rentan disusupi kebohongan. Berkat Ratna, masyarakat mendapatkan momen untuk menyaring informasi apa pun baik yang dinyatakan secara resmi oleh elite politik atau pendukungnya. 

"Kasus Ratna momentum hoaks terbesar sepanjang sejarah karena hampir 60 persen pemilih tahu dan membekas. Publik mendapatkan pembelajaran bagaimana hoaks begitu merusak," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Kamis, 25 Oktober 2018.

Ikrama mengatakan publik mulai sadar bahwa saat kebohongan Ratna terungkap, ada hal lain yang berdiri di atas peristiwa tersebut. Bahkan kasus Ratna Sarumpaet mendorong publik untuk antipati terhadap politik kebohongan.


Secara khusus, LSI sendiri membuat simulasi setelah kasus kebohongan Ratna terkuak. Hasilnya, arus berita bohong begitu masif dan banyak direspon banyak pihak. Bahkan 60 persen publik mengaku pernah menerima berita bohong.

"Kebohongan Ratna semakin menambah literasi publik bahwa beberapa berita bohong memang diciptakan karena literasi pemilih masih rendah," ungkapnya.

Senada dengan Ikrama, juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf menilai publik saat ini semakin cerdas dalam menyaring berbagai informasi. Masyarakat mulai paham mana informasi benar dan mana informasi yang dibuat untuk memfitnah atau mencari sensasi. 

"Kebohongan Ratna yang dipakai elite politik untuk membohongi rakyat sekarang betul-betul dikritik oleh masyarakat," katanya. 

Ia mengakui masyarakat dengan literasi rendah pada awalnya mengakui kebohongan Ratna sebagai sebuah kebenaran. Setelah itu terbongkar, publik mulai menyadari bahwa mereka sudah termakan berita bohong.

Namun ia memastikan pihaknya tidak akan ikut genderang lawan yang memanfaatkan keluguan masyarakat dengan memproduksi berita bohong hanya untuk mendapatkan simpati. 

"Kita tidak akan mengomentari, meladeni, karena menurut kami itu tidak produktif," pungkasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id