Ongkos Haji Diprediksi Naik
Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas)
Jakarta: Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 5 persen atas sebagian barang dan jasa yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi mulai 2018 berdampak pada penyelenggaraan haji dan umrah.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Nizar Ali mengatakan kebijakan tersebut mau tidak mau akan memengaruhi pembiayaan akomodasi, katering, bus salawat, termasuk barang-barang impor yang akan digunakan jemaah calon haji Indonesia di Arab Saudi.

Nizar mengatakan saat ini pihaknya masih menghitung berapa potensi penaikan ongkos haji yang akan dibebankan kepada calon jemaah sebelum membahasnya dengan Komisi VIII DPR RI.


"Dari situ akan ada komunikasi berapa biaya yang dibebankan kepada jemaah yang disebut BPIH dan berapa yang ditanggung indirect cost," ungkapnya, dalam Metro Pagi Primetime, Kamis 4 Desember 2017.

Jika menggunakan rata-rata nasional dengan biaya haji sebesar Rp34.890.000 per orang, tentu penaikan pajak 5 persen yang ditetapkan Arab Saudi akan sangat memberatkan calon jemaah

Meski begitu menaikkan biaya haji sebesar 5 persen menjadi kemungkinan terburuk yang akan diambil oleh pemerintah.

Kementerian Agama bisa saja memberikan subsidi agar tak terlalu memberatkan jemaah, namun itu tergantung hasil pembahasan dengan DPR RI. Boleh jadi biaya haji akan naik namun diupayakan tak terlalu signifikan.

"Secara rasional (penaikannya) Rp900 ribu sampai Rp1 juta, itu yang reasonable dalam konteks ini," katanya.

Nizar mengatakan pemerintah juga bisa menggunakan cadangan dana haji untuk memberikan subsidi namun dengan konsekuensi jika direct cost yang dibayarkan calon jemaah naik maka indirect cost akan diturunkan. Begitu pula sebaliknya.

Selama ini, kata Nizar, biaya yang dibebankan kepada jemaah meliputi tiket pesawat PP Indonesia-Arab Saudi, sebagian biaya hotel di Mekah, dan biaya hidup selama di Arab Saudi sebesar 1.500 riyal. Sementara biaya operasional sisanya diambil dari indirect cost atau dana optimalisasi setoran awal.

Jika kemudian komponen layanan naik misalnya untuk konsumsi maka yang semula ditanggung oleh indirect cost akan dialokasikan ke direct cost. Pengurangannya bisa diambil dari biaya hidup di Arab Saudi yang sebelumnya 1.500 riyal bisa turun menjadi 1.000 riyal yang kemudian diarahkan ke pembebanan biaya konsumsi.

"Yang paling mungkin disubsidi ya indirect cost, konsumsi, pemondokan, dan lain-lain yang bisa diolah dari pemanfaatan dana haji," jelasnya.





(MEL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id