Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. Medcom.id/ Candra Yuri Nuralam
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. Medcom.id/ Candra Yuri Nuralam

PKS Belum Mau Tiru Sowan AHY ke Jokowi

Candra Yuri Nuralam • 10 Juni 2019 20:39
Jakarta: Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menilai silaturahmi yang dilakukan Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati saat momen lebaran merupakan hal yang biasa saja. 
 
Dirinya menilai persepsi publik terkait seringnya AHY merapat ke kubu 01 dibandingkan 02 terlalu berlebihan. Menurut Mardani AHY pun diperisilakan untuk soan ke siapapun juga.
 
"Haknya AHY untuk silaturahmi ke manapun, paling baik memang kedua belah pihak ke Jokowi juga, Bu Mega juga, ke Prabowo juga. Jadi terbentuk persepsi yang seimbang," kata Mardani di Kompleks DPR MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin 10 Juni 2019.

Dia tidak ingin berprasangka buruk terkait silaturahmi yang dilakukan AHY. Menurut Mardani, AHY hanya ingin menghilangkan perbedaan dengan lebih sering sowan ke kubu 01.
 
"Lagi-lagi ini bagian dari dinamika yang harus dipahami setelah pilpres. Mungkin AHY dan Demokrat berfikir untuk mengakhiri ketajaman perbedaan antara 01 dan 02," ujar Mardani.
 
Mardani pribadi mengapresiasi silaturahmi yang dilakukan oleh AHY. Namun pihaknya belum ingin mengikuti sikap AHY lantaran masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
 
"Bagus niatnya, kalau kami baru mau setelah menunggu proses MK. Ini memang melelahkan, tapi itulah yang dilakukan konstitusi kita. Tunggu MK kalau kami," tutur Mardani.
 
Seperti diketahui AHY kini tengah gencar-gencarnya melakukan silaturahmi dengan Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri. Silaturahmi AHY kepada elite PDI-Perjuangan dinilai sebagai langkah rayuan Demokrat dengan koalisi Jokowi-Ma'ruf.
 
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai AHY mulai mengubah strategi politik. AHY dibaca tidak lagi pasif dalam berpolitik. 
 
"Tampaknya ada perubahan strategi politik yang drastis. Dari menunggu ke mendatangi. Dari biasanya pasif ke aktif," kata Ray kepada Medcom.id, Jumat, 7 Juni 2019. 
 
Menurut Ray, hal ini terjadi tidak lepas dari evaluasi internal pihak Demokrat, khususnya sang Ketua Umum sekaligus ayah AHY, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Belajar dari berbagai pengalaman terlambat secara politik dalam beberapa kasus terakhir, kata dia, mengakibatkan strategi politik harus diubah. 
 
"Bila selama ini lebih banyak menunggu, saatnya langsung menjemput," ucap Direktur Lingkar Madani Indonesia itu. 
 
Ray menilai strategi tersebut terlihat jauh lebih ampuh dan sesuai dengan usia AHY. Oleh karena itu, kata dia, AHY tak lagi bersikap menunggu di ujung, tapi jika perlu menjemput, terlibat dari awal, dan bahkan dapat menginisiasi. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SCI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>