Presiden Joko Widodo. Foto: Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay
Presiden Joko Widodo. Foto: Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay

Presiden Perintahkan Badan Riset Bergerak

Nasional Kabinet Jokowi-Maruf Riset dan Penelitian 100 Hari Jokowi-Maruf
Media Indonesia • 31 Januari 2020 09:33
Jakarta: Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) bergerak untuk mengonsolidasikan penelitian di 329 lembaga riset di kementerian/lembaga. Gerak cepat BRIN diperlukan dalam mengatasi ketertinggalan riset di Indonesia.
 
"Saya minta BRIN mampu mengidentifikasi topik riset strategis yang sesuai dengan kebutuhan bangsa. BRIN harus segera mengagendakan agenda riset strategis nasional," ucap Jokowi saat membuka Rakornas Kemenristek/BRIN 2020 di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Kamis, 30 Januari 2020.
 
Presiden mencontohkan produksi energi bioetanol Indonesia yang tertinggal dari Brasil. Negara itu kini telah menerapkan bioetanol 100%, sedangkan Indonesia baru mencapai 30% (B-30). "Saya ingin kita tidak kalah dari Brasil," cetus Jokowi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan potensi jutaaan liter minyak sawit untuk biodiesel, lahan sawit seluas 13 juta hektare dengan produksi 60 juta ton per tahun, Presiden optimistis Indonesia juga bisa menuju B-40, bahkan B-100.
 
"Ini bukan sesuatu yang mustahil. Kita punya banyak pakar dan ahli hebat," jelas Presiden.
 
Masih banyak bidang riset dan inovasi lain seperti pangan, farmasi, pertahanan, dan teknologi informasi yang bisa digenjot.
 
Untuk mengonsolidasikan riset nasional, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah isu strategis.
 
"Kemenristek/BRIN akan fokus pada litbang dan hilirisasi yang menghasilkan teknologi tepat guna substitusi impor sekaligus peningkatan TKDN, pendekatan nilai tambah dan penguasaan teknologi baru atau wellfare technology," ujar Bambang.
 
Salah satunya ialah pengembangan obat modern asli Indonesia berbasis pemanfaatan keanekaragaman hayati. "Yang mau kita dorong obat yang memang nantinya sudah melalui uji klinis," kata Bambang.
 
Pasalnya, saat ini, mayoritas bahan baku obat dan alat kesehatan masih diimpor. "Dukungan insentif pajak akan diberikan pada obat-obat di dalam negeri untuk masuk ke daftar obat yang dibiayai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," ucap Bambang.

Lakukan kolaborasi

Selain meminta BRIN segera mengonsolidasikan agenda riset, Presiden memerintahkan BRIN untuk mengonsolidasikan anggaran riset sebesar Rp27 triliun yang masih tercecer di 329 unit riset di K/L.
 
"(Konsolidasi) dulu yang diselesaikan sehingga menghasilkan hilirisasi riset yang baik. Jangan sampai riset cuma jadi laporan dan ditaruh di lemari," tegas Presiden.
 
Sebagai solusi, Presiden minta lembaga riset pemerintah berkolaborasi dengan swasta/dunia usaha, begitu juga sebaliknya. Presiden juga menyinggung minimnya dukungan dana bantuan dari BUMN Pertamina dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk pengembangan katalis yang dilakukan tim dari ITB.
 
Menperin Agus Gumiwang mengatakan industri menyambut positif penggenjotan riset ke depan seusai terbitnya insentif pengurangan pajak hingga 300%. Namun, konsistensi kebijakan di lapangan jadi penentunya.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif