Presiden Joko Widodo (kiri) mengamati kendaraan tempur produksi PT Pindad. Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Presiden Joko Widodo (kiri) mengamati kendaraan tempur produksi PT Pindad. Foto: Antara/Yudhi Mahatma

DPR Ingin Kekuatan Militer Indonesia Masuk 10 Besar Dunia

Nasional alutsista pertahanan keamanan
Whisnu Mardiansyah • 22 Februari 2018 00:33
Jakarta: DPR menginginkan Indonesia bisa masuk 10 besar militer terkuat di dunia. Harapan itu disuarakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo.
 
Untuk merealisasikan target itu, Bamsoet, sapaan Bambang, berharap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di industri strategis dapat bekerja sama dengan para pelaku industri pertahanan swasta dalam negeri.
 
"Jangan sedikit-sedikit impor. Melihat alutsista (alat utama sistem senjata) karya anak bangsa yang dipamerkan ini saya yakin industri pertahanan swasta kita bisa bersaing. Kita harus percaya diri dengan kemampuan bangsa sendiri," kata Bamsoet saat membuka Rapat Umum Anggota Luar Biasa Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas), Rabu, 21 Februari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menekankan tumbuh dan berkembangnya industri pertahanan dalam negeri menunjukan kedaulatan sebuah bangsa. Hal ini sekaligus menjadi nilai tambah bagi perekonomian nasional. Sehingga, peringkat pertahanan Indonesia bisa naik dari posisi 14 menjadi 10 besar dunia.
 
"Saya mendukung industri pertahanan yang dikelola pihak swasta bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Bukan hanya dari segi kuantitas, melainkan juga kualitas. Agar tak kalah dari industri pertahanan luar negeri," kata Bamsoet.
 
Baca: Industri Pertahanan Swasta Ditantang Buat Produk Murah Berkualitas
 
Mantan Ketua Komisi III ini menegaskan DPR selalu berkomitmen memperkuat alutsista untuk memenuhi kebutuhan sistem pertahanan dan keamanan nasional. Hal itu terbukti dengan anggaran pertahanan yang terus meningkat.
 
Di APBN 2018, alokasinya mencapai Rp107 triliun. Sebanyak Rp15 triliun digunakan membeli alutsista. Dengan anggaran yang besar itu, ia berharap industri pertahanan dalam negeri dapat lebih diutamakan.
 
"Saya dapat informasi hampir 80 persen peralatan pertahanan nasional kita dipenuhi impor. Kalau pun ada yang dibuat di dalam negeri oleh BUMN, terkadang itu merupakan barang impor yang diganti mereknya. Kita jangan jadi bangsa yang membohongi diri sendiri," kata dia.
 

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif