Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. ANT/Akbar Nugroho Gumay.
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. ANT/Akbar Nugroho Gumay.

Ada Bentrokan Psikologis Gerindra Masuk Kabinet

Nasional kabinet jokowi
M Sholahadhin Azhar • 12 Oktober 2019 00:08
Jakarta: Sinyal merapatnya Gerindra ke koalisi semakin kuat. Namun masuknya partai pimpinan Prabowo Subianto itu dianggap janggal mengingat selama ini sebagai simbol oposisi.
 
"Ada bentrokan psikologis yang tak bisa dihindari. Sangat lucu, Bagaimana kita bisa menjelaskan pada publik," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno saat dihubungi, Jumat, 11 Oktober 2019.
 
Menurut dia, selama ini Gerindra konsisten mengkritisi pemerintah. Bahkan cukup ekstrim dalam perbedaan pendapat politik. Adi mengatakan, tak bisa dibayangkan jika partai itu harus masuk koalisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengingat sejauh ini yang menjadi simbol oposisi adalah Gerindra dan Prabowo. Bukan PKS atau PAN. Sehingga nantinya simbol itu akan hilang jika Prabowo Subianto balik kanan merapat ke pemerintah.
 
"Kalau simbol oposisi ini melebur jadi satu tentu akan jadi lelucon," kata dia.
 
Menurut Adi, sah-sah saja Gerindra merapat, hanya saja dinamika politik Indonesia akan semakin aneh. Karena persaingan yang memanas di Pilpres kemarin tiba-tiba redup hanya karena tawaran masuk kabinet.
 
Harusnya, kata dia, ada sikap politik yang harus dipertanggungjawabkan dari elite partai. Jika Gerindra masuk koalisi, maka hal ini tak terjadi.
 
"Itu artinya politik kita selama ini gincu aja bahwa perbedaan dan konfrontasi itu hanya sebatas konsumsi publik saja," kata Adi.
 

 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif