Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: MI/M. Irfan.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: MI/M. Irfan.

Jungkat-jungkit Prestasi Kemenhan

Nasional Evaluasi Kabinet Kerja
M Sholahadhin Azhar • 19 Oktober 2019 01:05
Jakarta: Pengamat Pertahanan Kusnanto Anggoro menakar capaian Kementerian Pertahanan di periode pertama Presiden Joko Widodo. Menurut dia, ada beberapa keberhasilan Kemenhan yang harus diapresiasi.
 
"Capaiannya lumayan lah menurut saya, khususnya dalam proyek-proyek bela negara," ujar Kusnanto kepada Medcom.id, Jumat, 18 Oktober 2019.
 
Dalam keberhasilan ini, dia melihat proses legislasi berhasil mendukung kinerja Kemenhan. Termasuk dalam penyusunan Undang-Undang pendayagunaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal ini bisa menjadi landasan untuk mengatur rincian yang masih banyak. Pendek kata, kalau ukurannya kebijakan umum pertahanan negara 2015-2019, sudah oke," beber Kusnanto.
 
Namun dia menyebut ada beberapa hal yang harus dibereskan ke depan. Terutama dalam mendukung program Minimum Essential Forces atau MEF di 2024. Kusnanto memberi kritik mengenai tugas-tugas Kementerian pertahanan.
 
Contohnya dalam mengoptimalkan kinerja tiga matra TNI. Mengingat ada beberapa masalah yang harus diselesaikan terkait stabilitas pertahanan.
 
"Jadi periode besok harus menjadi tumpuan akselerasi, afirmasi dan koreksi, agar tidak kedodoran di 2025," kata dia.
 
Tanpa menyinggung Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Kusnanto melihat harus ada komponen pertahanan yang harus dibenahi. Sebab tantangan ke depan tentu berbeda dengan saat ini.
 
"Menhan besok harus progresif, outward looking dan fokus ke modernisasi teknologi," ujar dia.
 
Fokus Bangun Kekuatan Modern
 
Kusnanto menyebut anggaran kurang lebih Rp 127,4 triliun untuk Kemenhan, harus dialokasikan secara bijak. Dia melihat proyeksi ke depan, Indonesia harus siap membangun kekuatan militer modern.
 
Namun Kusnanto menakar bahwa anggaran harus fokus untuk memenuhi target MEF 2024. Karena hal itu harus menjadi prioritas, meski program itu belum dirancang untuk lebih modern.
 
"Makanya Menhan besok harus bikin akselerasi dan lainnya, sekalian pastikan MEF 2024-2045," kata dia.
 
Kusnanto mendambakan sosok Menteri Pertahanan yang bisa memberi konsep, paling tidak kerangka, arah dan prioritas pertahanan ke depan. Karena tuntutan kekuatan militer yang modern merupakan keniscayaan.
 
Masih soal menteri idaman versi dia, Kusnanto menyarankan sebaiknya jabatan itu diberikan ke profesional. Sebab orkestrasi bidang pertahanan Indonesia perlu kemampuan manajerial di atas rata-rata.
 
Namun jika sudah mentok, tak apalah Jokowi memilih Menhan dengan background partai. Tetapi Kusnanto menitip pesan agar Menhan diberi bala bantuan.
 
"Kalau enggak cukup ya kasih Wamenhan. Sekalian buka ruang lebih luas untuk bagi-bagi," ujar dia.
 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif