Mahfud MD--Rommy Pujianto
Mahfud MD--Rommy Pujianto

Mahfud MD: Tak Objektif Mengatakan Supersemar Perebutan Kekuasaan

Nasional supersemar
Meilikhah • 11 Maret 2016 19:18
medcom.id, Jakarta: Penerbitan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) bukan langkah Soeharto menggulingkan pemerintahan Soekarno. Pendapat yang mengatakan Supersemar adalah perebutan kekuasaan dinilai tidak objektif.
 
"Menurut saya tidak objektif melihat Supersemar seperti sekarang dibandingkan dengan sejarah Supersemar tahun 1966, yang tentunya kondisi politik saat itu tidak seperti sekarang," kata pakar hukum tata negara Mahfud MD dalam peringatan 50 Tahun Supersemar di Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat, Jumat (11/3/2016).
 
Mahfud bercerita soal seorang pakar di salah satu stasiun televisi yang menyiarkan langsung tentang Supersemar. Pakar tersebut berpandangan bahwa Supersemar merupakan taktik Soeharto mengambilalih tampuk kekuasaan Soekarno.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mahfud mengatakan, sejak awal reformasi memang sudah banyak yang mengatakan Supersemar peristiwa perampasan kekuasaan secara inkonstitusional dari Soekarno oleh Soeharto. Tapi, sambung dia, tidak bijak jika kondisi politik saat itu dibandingkan dengan sekarang.
 
"Saya bilang ke dia, mungkin versi dia begitu. Tapi sekalipun benar kekuasaan itu diambil secara paksa tetap tidak bisa menghapus fakta sejarah yang saat itu terjadi," terang Mahfud.
 
Suka atau tidak, kata Mahfud, Supersemar sudah menjadi sumber hukum. Dari peristiwa tersebut, sebut Mahfud, Indonesia menjadi belajar bahwa untuk merebut kekuasaan tertinggi tidak bisa hanya melalui surat perintah.
 
Tetapi tetap harus melalui jalan konstitusi. "Dengan kata lain proses pengambilalihan kekuasaan harus melalui MPR saat itu," kata dia.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif