medcom.id, Jakarta: Ide bela negara yang dicetuskan Menteri Pertahanan Rymizard Ryucudu dinilai belum tepat untuk saat ini. Yang paling mendesak saat ini adalah memperbaiki perekonomian Indonesia.
"Saya kira sekarang enggak ada urgensinya bela negara. Mau membela dari apa, ngurusin asap saja kita enggak bisa," kata politikus Gerindra, Fadli Zon, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/10/2015).
Fadli mengatakan, program bela negara harus disertai kajian, seperti anggaran, kurikulum, serta tujuan dari program bela negara tersebut.
"Jadi jangan hanya sekadar cuatkan ide, tapi kita tidak jelas. Saya kira yang jadi prioritas saat ini adalah ekonomi, bagamana memperbaiki kehidupan ekonomi masyarakat yang sekarang makin susah. Harus fokus ke situ," jelasnya.
Sebaiknya, program bela negara ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. "Kalau kita nanti ada anggaran cukup dengan situasi yang lebih normal, saya kira bisa," tukasnya.
Kementerian Pertahanan membentuk 4.500 kader pembina bela negara di 45 kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Pengkaderan bersifat nirmiliter itu untuk mengantisipasi ancaman terhadap Indonesia yang semakin nyata.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, ancaman terbagi menjadi dua. Pertama, ancaman belum nyata. Misalkan, peperangan antarnegara yang melibatkan Indonesia dengan segenap potensi prajurit dan alat utama sistem persenjataannya.
Kedua, ancaman nyata. Ryamizard sempat menyinggung konflik ojek berbasis aplikasi dan ojek pangkalan. Hal itu bentuk ancaman nyata. Sesama warga negara saling bentrok. Ia sangat menyesalkan konflik tersebut.
Direktur Bela Negara Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama M. Faisal, mengatakan, kader bela negara dilatih selama satu bulan di berbagai tempat militer sesuai standar yang sudah diciptakan.
medcom.id, Jakarta: Ide bela negara yang dicetuskan Menteri Pertahanan Rymizard Ryucudu dinilai belum tepat untuk saat ini. Yang paling mendesak saat ini adalah memperbaiki perekonomian Indonesia.
"Saya kira sekarang enggak ada urgensinya bela negara. Mau membela dari apa, ngurusin asap saja kita enggak bisa," kata politikus Gerindra, Fadli Zon, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/10/2015).
Fadli mengatakan, program bela negara harus disertai kajian, seperti anggaran, kurikulum, serta tujuan dari program bela negara tersebut.
"Jadi jangan hanya sekadar cuatkan ide, tapi kita tidak jelas. Saya kira yang jadi prioritas saat ini adalah ekonomi, bagamana memperbaiki kehidupan ekonomi masyarakat yang sekarang makin susah. Harus fokus ke situ," jelasnya.
Sebaiknya, program bela negara ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. "Kalau kita nanti ada anggaran cukup dengan situasi yang lebih normal, saya kira bisa," tukasnya.
Kementerian Pertahanan membentuk 4.500 kader pembina bela negara di 45 kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Pengkaderan bersifat nirmiliter itu untuk mengantisipasi ancaman terhadap Indonesia yang semakin nyata.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, ancaman terbagi menjadi dua. Pertama, ancaman belum nyata. Misalkan, peperangan antarnegara yang melibatkan Indonesia dengan segenap potensi prajurit dan alat utama sistem persenjataannya.
Kedua, ancaman nyata. Ryamizard sempat menyinggung konflik ojek berbasis aplikasi dan ojek pangkalan. Hal itu bentuk ancaman nyata. Sesama warga negara saling bentrok. Ia sangat menyesalkan konflik tersebut.
Direktur Bela Negara Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama M. Faisal, mengatakan, kader bela negara dilatih selama satu bulan di berbagai tempat militer sesuai standar yang sudah diciptakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)