Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Diyakini Tak Memunculkan Persekusi

Whisnu Mardiansyah 27 November 2018 22:53 WIB
aliran sesat
Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Diyakini Tak Memunculkan Persekusi
Politisi PKS M Nasir Djamil. Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
Jakarta: Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) alias Smart Pakem diyakini tak akan menimbulkan efek negatif. Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil tak khawatir aplikasi milik Kejaksaan Tinggi DKI menimbulkan persekusi.

"Kalau (aplikasi) ini kan soal memberikan sarana untuk membangun kesadaran masyarakat, semua mereka harus berpartisipasi dalam penegakan hukum terhadap aliran-aliran yang sesat dan menyimpang di tengah masyarakat," Nasir, Selasa, 27 November 2018.

Nasir mengapresiasi keberadaan aplikasi ini sebagai bentuk pemanfaatan teknologi oleh Kejaksaan. Nasir menyarankan kejaksaan membuat kriteria model pelaporan masyarakat. Ini agar masyarakat merasa tidak takut untuk melaporkan dugaan adanya aliran atau paham keagamaan yang sesat.


"Jadi diharapkan simple saja orang memberikan laporan tinggal nanti kejaksaan menindaklanjuti dengan fungsi intelijen yang ada pada mereka," ujar Politikus PKS itu.

Nasir meyakini aplikasi itu dapat mendukung kerja-kerja Kejaksaan dalam menangkal aliran sesat dan aliran yang menyimpang di tengah masyarakat. Pekerjaan rumahnya, aplikasi harus dibuat semudah mungkin dan tidak terkesan birokratis. Kejaksaan harus aktif menindaklanjuti setiap laporan yang datang dari masyarakat. 

"Jadi kalau laporan itu tidak ditindaklanjuti, masyarakat jadi malas melaporkan," ujarnya.

Aplikasi Pakem dilengkapi fitur diantaranya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), aliran keagamaan, aliran kepercayaan, ormas, informasi, dan laporan pengaduan. Keberadaan aplikasi ini bukan tanpa penolakan.

Yayasan Lembaga Bimbingan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tegas menolak keberadaan aplikasi ini. Dua lembaga ini menilai aplikasi berpotensi memicu konflik dan potensial memunculkan tindakan persekusi di masyarakat.



(AGA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id