Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah/MI/Mohamad Irfan
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah/MI/Mohamad Irfan

OTT di Kemenpora Dikhawatirkan Menimbulkan Kekacauan Politik

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Whisnu Mardiansyah • 21 Desember 2018 14:10
Jakarta: Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menegaskan operasi tangkap tangan (OTT) pejabat di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bisa merusak reputasi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Peristiwa itu dikhawatirkan menimbulkan kekacauan politik di tahun pemilu.

"Menurut saya presiden harus berkoordinasi tentamg OTT ini sampai masa pemilu nanti. sehingga betul betul ini jangan sampai menjadi faktor kekacauan politik," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Desember 2018.

Berbagai OTT KPK di tahun politik saat ini sangat riskan meruntuhkan reputasi pemerintah. Apalagi, Jokowi kembali menjadi calon presiden pada Pilpres 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Baca: Menpora Siap Kooperatif dengan KPK Fahri menyarankan  Jokowi turun tangan mengevaluasi langsung sumber pendanaan pemerintah. Presiden harus bisa menjaga dan mewanti-wanti pembantunya tak terpeleset di akhir masa pemerintahan.

"Pengelolaannya harus dibikin standar supaya dia tidak menjadi sumber terindikasi menjadi korupsi," ucap dia.

KPK menetapkan Deputi IV Prestasi Olahraga Kementerian Olahraga (Kemenpora) Mulyana (MUL) sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penyaluran bantuan dari Pemerintah melalui Kementerian Olahraga (Kemenpora) kepada KONI tahun anggaran 2018. Dia ditetapkan bersama empat orang lainnya pasca tertangkap tangan, Selasa, 18 Desember 2018.

Baca: Dokumen Penting Disita dari Ruang Imam Nahrawi

Mereka ialah Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH); Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy (JEA); Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora Adi Purnomo (AP) dan Staf Kementerian Pemuda Olahraga Eko Triyanto (ET).

Dalam kasus ini, Adi dan Eko diduga telah menerima uang suap sebanyak Rp318 juta dari Ending dan Jhony. Sedangkan, Mulyana telah menerima uang dalam beberapa tahap.

Pertama, pada Juni 2018 menerima satu unit mobil Toyota Fortuner. Kedua, uang sebesar Rp300 juta. Kemudian pada September 2018, menerima satu unit Samsung Galaxy Note 9. Suap itu diberikan agar dana hibah segera direalisasikan.


(OJE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi