Presiden Joko Widodo (kiri) bersalaman dengan Prabowo Subianto (kanan) usai bersama-sama menaiki moda transportasi MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.
Presiden Joko Widodo (kiri) bersalaman dengan Prabowo Subianto (kanan) usai bersama-sama menaiki moda transportasi MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.

Dua Sisi Rekonsiliasi

Nasional pilpres 2019
Candra Yuri Nuralam • 14 Juli 2019 09:24
Jakarta: Presiden Joko Widodo akhirnya bertemu rivalnya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Prabowo Subianto, untuk rekonsiliasi. Pertemuan yang ditunggu publik ini mendapat respons beragam.
 
Wakil Sekretaris Jendral Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan pertemuan keduanya mampu menurunkan tensi politik. Pertemuan ini menyatakan pemilihan umum (pemilu) sudah selesai kepada masyarakat.
 
"Sudah saatnya kita kembali membangun bangsa bersama-sama karena PR (pekerjaan rumah) dan tantangan bangsa ini begitu banyak dan besar dan juga kompetisi sudah selesai. Sudah saatnya kita bersatu untuk membangun bangsa dan negara," kata Andre kepada Medcom.id, Sabtu, 13 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Isyarat selesainya pemilu itu dilakukan dengan jabat tangan dan pemberian selamat dari Prabowo kepada Jokowi. Andre mengatakan hal ini menggambarkan keduanya siap membangun bangsa bersama walau berbeda jalan.
 
"Dalam pertemuan itu kan Pak Prabowo menyampaikan selamat ke Pak Jokowi dan siap membantu demi kepentingan rakyat dan akan mengkritik pemerintah kalau dibutuhkan karena check and balance dibutuhkan juga," ujar Andre.
 
Andre menginginkan masyarakat menilai rekonsiliasi di dalam Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta itu sebagai simbol perdamaian. Dia berharap dengan pertemuan itu, masyarakat bisa kembali bersatu usai merasakan panasnya Pemilu 2019.
 
"Ini pertemuan kebangsaan, dua tokoh bertemu agar masyarakat kembali rujuk," tutur Andre.
 
Sejalan dengan Andre, politikus Partai Golkar Mukhamad Misbakhun menyambut rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo dengan positif. Menurut dia, peristiwa ini sangat penting untuk kembali menyatukan masyarakat.
 
Misbakhun ingin publik melupakan panasnya pemilu dan kembali bergotong royong membangun negara. Dia berharap tidak ada lagi perpecahan usai rekonsiliasi.
 
"Semua demi kepentingan yang lebih besar yaitu mengonsolidasikan semua potensi setiap anak bangsa demi kemajuan bangsa yang utuh tanpa tersekat sisa masalah pilpres yang sempat membelah masyarakat," tegas Misbakhun.
 
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai rekonsiliasi kemarin hanyalah awalan. Pertemuan keduanya hanya menggambarkan kepada publik persaingan dalam pilpres sudah selesai.
 
"Pertemuan yang bermakna positif. Sifatnya masih silaturahmi. Pertemuan awal yang akan memperjelas rekonsiliasi ke depan," kata Ujang.
 
Pertemuan keduanya juga dinilai baik karena pembicaraan berlangsung santai, bukan berkutat di permasalahan politik. "Dengan bertemunya kedua tokoh tersebut suhu politik akan semakin dingin dan rakyat akan optimis menatap rekonsiliasi," ujar Ujang.
 
Menyayat hati
 
Tidak semua pihak menilai rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo dengan positif. Hati Persaudaraan Alumni (PA) 212 justru tersayat dengan pertemuan itu.
 
Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin menilai Prabowo mempermainkan pihaknya dengan rekonsiliasi ini. Prabowo dinilai tidak menghargai perjuangan pendukungnya selama masa pemilu.
 
"Iya kami tidak dukung pertemuan itu karena perjuangan ini sampai korban nyawa," kata Novel.
 
Novel mengingatkan Prabowo dengan aksi 21 dan 22 Mei 2019 di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Di sana, pendukungnya banyak yang mendapat luka dan ditangkap kepolisian.
 
Baca: ?Narasi Negatif Perlu Dihilangkan Pascarekonsiliasi
 
Untuk itu, Novel menegaskan tidak menerima perlakuan Prabowo. Dia mengatakan akan ada ijtimak ulama keempat dalam waktu dekat untuk menanggapi rekonsiliasi ini. Ijtimak itu juga akan menegaskan arah dukungan alumni 212.
 
"Kalau suara nanti 2024 insyaallah kita tentukan saat ijtimak nanti," tegas Novel.
 
Terpisah, Sekretaris PA 212 Bernard Abdil Jabat juga sudah tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan Prabowo. Dia menegaskan alumni 212 tak mengikuti kemauan Prabowo.
 
"Kita akan berjuang istikamah terus dengan komando ulama dan arahan Habib Rizieq (pentolan Front Pembela Islam) sebagai imam besar kita bukan Prabowo. Sebagai mujahid, tidak akan pernah kecewa dengan apa yang diputuskan Allah terhadap perjuangan ini," tegas Bernard.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif