Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.
Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.

Jokowi Ingin Indonesia Berkontribusi Mengatasi Masalah Ketahanan Pangan

Indriyani Astuti • 24 Juni 2022 23:26
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut dunia tengah menghadapi tantangan berat. Seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga stabilitas keuangan.
 
Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia dilaporkan turun menjadi 2,6 persen. Sehingga, membuat tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dapat tertunda.
 
Indonesia sebagai Presiden G20 dan bagian dari Global Crisis Response Group akan berkontribusi untuk mengatasi masalah ketahanan pangan, energi, dan stabilitas keuangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya mencatat banyak inisiatif lain dari berbagai pihak. Insiatif yang ada tersebut harus saling bersinergi dan saling memperkuat, harus memperhitungkan suara negara-negara berkembang, harus mengedepankan dialog," kata Jokowi dalam pidatonya pada High-level Dialogue on Global Development dari Istana Merdeka, Jakarta, yang disiarkan kanal YouTube Sekretriat Presiden, Jumat, 24 Juni 2022.
 
Presiden mendorong semua negara segera mengambil kesempatan dalam pembangunan agar yang ditargetkan SDGs tidak hilang. Menurut Jokowi, penguatan kemitraan global untuk SDGs yang fokus pada pendanaan pembangunan sangat penting.
 
Baca: Tren Kenaikan Harga Pangan Terjadi Sejak Akhir 2021
 
Kepala Negara menegaskan kesenjangan pendanaan SDGs meningkat dari USD2,5 triliun per tahun sebelum pandemi menjadi USD4,2 triliun per tahun. Selain itu, presiden mengusulkan pendanaan inovatif dengan memperkuat peran sektor swasta.
 
Dia menilai Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS) harus menjadi katalis bagi penguatan investasi di negara-negara berkembang. Pada kesempatan itu, Jokowi juga mendorong penguatan sumber-sumber pertumbuhan baru.
 
Menurut dia, kerja sama BRICS dengan negara mitra harus mendukung transformasi digital yang inklusif, pengembangan industri hijau dan infrastruktur hijau, serta penguatan akses negara-negara berkembang pada rantai pasok global.
 
"Sebagai penutup, saya mengajak kita semua untuk bekerja sama. Recover together, recover stronger," tegas dia.
 
High-level Dialogue on Global Development diadakan di Beijing, Tiongkok dengan tema 'Membina Kemitraan Pembangunan Global untuk Era Baru untuk Bersama-sama Melaksanakan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan'. Dalam Dialog tersebut, hadir para pemimpin BRICS dan para pemimpin negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif