TNI AL merayakan HUT ke-75 di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Foto: Antara/M Risyal Hidayat
TNI AL merayakan HUT ke-75 di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Foto: Antara/M Risyal Hidayat

HUT Saat Covid-19, TNI Harus Perbarui Perspektif Ancaman di Masa Depan

Nasional alutsista tni tni Virus Korona hut tni
Wandi Yusuf • 04 Oktober 2020 18:13
Jakarta: Besok, Tentara Nasional Indonesia (TNI) genap berusia 75 tahun. Merayakan ulang tahun di tengah pandemi covid-19 merupakan tantangan tersendiri. TNI dituntut mampu merespon bencanan non-alam ini secara terukur dan sistematis.
 
"Pengalaman TNI yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi bencana alam, kini harus diproyeksikan menghadapi bencana non-alam," kata pakar pertahanan Susaningtyas Kertopati, melalui keterangan tertulis, Minggu, 4 Oktober 2020.
 
Pandemi covid-19 bisa dikategorikan sebagai bencana nonalam. Menyikapi persoalan ini, TNI ikut turun menghadapinya dengan mengedepankan operasi militer selain perang (OMSP).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dari perspektif sistem pertahanan negara, maka OMSP menghadapi pandemi covid-19 ini dapat diterapkan juga dalam menghadapi ancaman senjata biologis di masa depan," kata pengajar di Universitas Pertahanan itu.
 
Dengan parameter dan indikator yang sama, maka kemampuan TNI menghadapi ancaman senjata biologis pada gilirannya juga bisa diimplementasikan untuk menghadapi ancaman senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) lainnya.
 
Menurut Susaningtyas, ancaman senjata nuklir, senjata kimia, dan senjata radiasi juga memiliki skala tinggi untuk dideteksi dan ditangkal oleh TNI.
 
"Pada HUT ke-75 ini, TNI diharapkan segera meningkatkan kemampuan dan persenjataannya untuk menghadapi ancaman CBRN (chemical, biology, radiation and nuclear). Wabah covid-19 merupakan ancaman nirmiliter. Ancaman nirmiliter berbeda dengan ancaman militer dan ancaman nonmiliter," kata dia.
 
Baca:KSAL Pimpin Upacara Peringatan HUT Ke-75 TNI AL
 
Menurutnya, ketiga ancaman itu dikenal sebagai ancaman hibrida dan telah mengubah perspektif ancaman di masa mendatang. "Senjata biologi dan pertahanan negara antisenjata biologi merupakan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai TNI di masa depan."
 
TNI juga dituntut untuk meningkatkan kualitas sumber daya prajuritnya, mengingat semakin luasnya ancaman. Menurutnya, kualitas SDM merupakan bagian dari upaya memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).
 
"Sehingga, dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang andal," tegas dia.

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif