Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dok KLHK.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dok KLHK.

Indonesia Serius Mengelola Sumber Daya Air Berkelanjutan

Atalya Puspa • 19 Mei 2022 11:49
Jakarta: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menekankan Indonesia serius mengelola sumber daya air secara berkelanjutan. Sumber daya air sama pentingnya dengan sumber daya lahan.
 
"Indonesia menginisiasi berbagai program pencegahan dan perbaikan stabilitas lanskap melalui pendekatan berbasis ekosistem untuk menjamin ketersediaan air sesuai dengan dimensi ruang dan waktu," kata Siti dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Mei 2022.
 
Siti mengatakan Indonesia serius mempertimbangkan kesesuaian konfigurasi lanskap dengan kondisi biofisik. Aspek sosial ekonomi dalam mengelola sumber daya air juga turut diperhatikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tata kelola lanskap harus ditangani untuk memastikan kesinambungan penyediaan air bersih dengan jumlah yang cukup dan kualitas yang baik," ujar dia.
 
Ia menjelaskan jika pengelolaan sumber daya air di Indonesia tidak hanya mencakup aspek teknis. Namun, didukung aspek kelembagaan meliputi nilai, regulasi, partisipasi organisasi, dan keterlibatan publik.
 
"Dalam budaya kita, sangat menganjurkan untuk menggunakan air dengan bijak, seperti tercermin dalam regulasi negara, program dan peran serta masyarakat. Air menjadi faktor yang utama dalam menghitung daya dukung dalam penilaian lingkungan strategis kami, serta membangun ketahanan pangan dan energi," jelas dia.
 
Pengelolaan sumber daya air juga berkaitan dengan bagaimana mengelola ancaman terhadap pasokan dan kualitas air. Khususnya, dalam menghadapi dunia yang semakin urban, degradasi bentang alam, dan tantangan atas perubahan iklim.
 
Baca: Cuaca Panas Sepanjang Mei, KLHK Tingkatkan Antisipasi Karhutla
 
Secara nasional, kata dia, Indonesia telah membuat komitmen yang kuat untuk memulihkan lahan terdegradasi dengan meluncurkan Indonesia Forestry and Other Land Use (FoLU) Net-Sink 2030. Ia menyebut Indonesia memiliki akumulasi pengalaman dalam program rehabilitasi hutan dan lahan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat lokal, serta kerja sama internasional.
 
Target rehabilitasi hutan dan lahan Indonesia sangat masif. Siti memerinci, ada 108 unit daerah aliran sungai (DAS) kritis yang harus direstorasi, 15 danau prioritas, 65 waduk, 100 mata air, serta kawasan rawan bencana yang cukup besar.
 
"Juga kawasan rawan kebakaran, dan tanah terdegradasi yang terletak di 34 provinsi," ucap dia.
 
Ia menerangkan Indonesia telah melakukan beberapa hal terkait program aksi pengelolaan air berkelanjutan. Misalnya, penggunaan kembali air wudhu di Masjid Istiqlal dan restorasi hidrologi fungsi ekosistem lahan gambut.
 
"Salah satu kegiatan utama meliputi pembangunan sekat kanal di areal konsesi atau masyarakat untuk melestarikan air lahan gambut yang pada gilirannya membasahi kembali daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan," beber politikus Partai NasDem itu.
 
Selain itu, ada pula program ecoriparian. Program ini fokus pada pemanfaatan sungai dan danau untuk mengurangi pencemaran limbah domestik melalui pengolahan komunal terhadap air limbah rumah tangga sebelum dibuang ke sungai.
 
"Indonesia juga telah membentuk program onlimo dan sparing untuk memantau kualitas air dari ancaman pencemaran secara kontinu dan online," ujar dia.
 
Pemaparan ini disampaikan Siti kepada delegasi internasional yang hadir pada Ministerial Dialogue 2 di gelaran Sector Ministers Meeting 2022 - Sanitation and Water for All (SWA) Jakarta, Rabu, 18 Mei 2022. Kegiatan ini mengusung tajuk Sustainable Recovery through Reforms and Collective Action.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif