Wawancara khusus Ketua Umum NasDem Surya Paloh bersama Metro TV. (Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah)
Wawancara khusus Ketua Umum NasDem Surya Paloh bersama Metro TV. (Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah)

Surya Paloh: Rekonsiliasi, Koalisi, Hingga Revitalisasi Bangsa

Nasional partai nasdem surya paloh
Whisnu Mardiansyah • 11 Juli 2019 13:01
Jakarta: Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh belum lama ini mengajak jajaran partainya bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Ide dan gagasan kebangsaan selama lima tahun ke depan menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut.
 
Penggagas restorasi Indonesia itu, menyampaikan kepada Presiden realitas kebangsaan saat ini yang sedang terkoyak. Kesadaran akan semangat kebangsaan yang luntur dari elite politik menjadi keprihatinannya.
 
Ia mengingatkan Presiden Joko Widodo berani mengambil risiko apa pun demi mempertahankan stabilitas ekonomi dan politik. Jokowi harus berani mengambil kebijakan yang tidak populer demi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berbicara koalisi, Surya mewanti-wanti nilai-nilai dasar sistem berdemokrasi perlu dijaga dan dipelihara. Salah satunya sistem check and balance. Ia mengingatkan konsekuensinya mengajak seluruh partai politik ke Pemerintahan. Fungsi pengawasan harus tetap terjaga.
 
Dalam wawancara khusus dengan Metro TV, Surya banyak mencurahkan harapannya di pemerintahan Jokowi-Ma'ruf lima tahun ke depan. Pekerjaan besar menumbuhkan kesadaran para elite politik.
 
Berikut wawancara lengkap Surya Paloh bersama news anchor Metro TV Aviani Malik.
 
Bicara pertemuan kemarin dengan Presiden Jokowi, apa makna pertemuan itu bagi NasDem?
 
Memberikan penguatan, saling menguatkan Partai NasDem maupun penguatan bagi kepemimpinan Pak Jokowi sendiri ke depan. Itulah makna dan esensi pertemuan kemarin yang bisa saya utarakan.
 
Ada pembahasan menarik dalam pertemuan itu?
 
Memang (ada) dalam pertemuan keluarga besar Partai NasDem dan Pak Jokowi.
 
Situasi politik hari ini kurang lebih seperti apa perbincangannya ?
 
Bagaimanapun kita melihat kondisi objektif di tengah-tengah potret kehidupan masyarakat. Hal yang ini seharusnya membangun kesadaran kita bersama bahwa ada pekerjaan besar yang memang harus kita kerjakan bersama-sama yaitu membangun kesadaran, pentingnya persatuan harus terjaga di negeri ini.
 
Boleh berbeda pandangan, tanggapan, pikiran, pilihan, ungkapkan saja. Berulang kali saya katakan tidak boleh merusak. Kehadiran kita bersama-sama di negeri ini bertanggung jawab atas majunya negeri. Saya selalu menekankan kepada siapa saja betapa pentingnya di sini membangun kesadaran bersama bukan hanya kelompok. Semangatnya semangat kekitaan, semangat antara kamu, mereka, dan Kita. Ini yang paling penting. Mudah untuk kita ucapkan sulit sekali dilakukan.

 
Realita politik persatuan dan kekitaan kita hari ini seperti apa?
 
Sejujurnya menyedihkan tidak membesarkan hati. Bagi siapapun yang mempunyai kesadaran dan kesayangannya terhadap negeri ini bukan demi kepentingan pragmatis. Apalagi hal-hal kepentingan jangka pendek. Saya pikir kita ditantang, ada tantangan besar kalau kita salah-salah menjaga amanat dan persatuan itu kita akan terpecah belah.
 
Saya pikir semua pihak bisa memberikan komentar, pandangan, dan tanggapannya serta pendapatnya. Mungkin saja saya terlalu berlebihan sebagai Ketum Partai NasDem terlalu sentimental. Tapi izinkanlah saya harus mengingatkan kepada semua, persatuan kita rentan. Permasalahan yang sederhana bisa jadi polemik berkepanjangan. Masalah kompetisi kita anggap sudah selesai, bisa juga ditarik berkepanjangan eksesnya.
 
Kita sendiri tidak konsisten untuk menjalankan sistem dan model kebebasan demokrasi yang kita miliki hari ini. Kita bermain-main dengan akal sehat kita, bahkan kita mempermainkan juga hati dan nurani kita. Itu yang saya katakan menyedihkan. Kenapa menyedihkan? Karena perilaku elitenya lokomotif penggerak elite-elite yang ada di negeri ini, mereka harus memberikan keteladanan selalu ada konsistensi ucapan dan perbuatan ada spirit membangun kekitaan bukan dalam keadaan yang saling terus-menerus mencerca, fitnah-fitnah, sirik, dan dengki di antara kita. Kita mau lihat potret masyarakat seperti apa, kita mau bikin negeri ini dengan kehadiran negeri yang adijaya setara dengan negara-negara besar lainnya itu nonsenses, tidak mungkin, kita penuh bermuslihat di antara kita.

 
Itu mengerikan Pak Surya, tapi di situasi seperti ini sebenarnya yang kita inginkan negeri yang besar SDM (sumber daya manusia) yang kuat apakah sudah terlambat? Mau berbenah, mulai dari siapa dan akan seperti apa pekerjaan rumah ini kita selesaikan?
 
Kita harus melihat fakta ini secara objektif, enggak ada kata terlambat. Menerima kondisi objektif ini mari kita bangun kesadaran, kita bangkit. Siapa bilang kita tidak bisa memperbaiki diri? Bukan berarti kita melihat potret yang menyedihkan ini kita semakin larut dalam kesedihan. Hak kita, kewajiban kita untuk bangkit itulah esensi membangun semangat kita.
 
Apakah hal ini disadari elite kita termasuk Presiden?
 
Mudah-mudahan. Saya lihat anak bangsa punya optimisme. saya pikir pikiran-pikiran itu tidak hanya saya sendiri, tidak hanya terbatas pada kalangan tertenu tetapi juga ada pada generasi-generasi pemula sekarang. Ini sisi positif membangun optimisme. Tadi saya katakan ada keprihatinan kesedihan, nah di sini ada sisi optimisme kita.
 
Bagaimana memadukan itu? Kita melihat nilai positifnya tidak kalah hebatnya kalau kita mau menjalankan ini. Permasalahannya sekarang berpulang pada kita, kita mau maju konsisten?! Jangan ucapan kita mau maju tapi kita mundur ke belakang. Kita mempermainkan akal sehat dengan kepura-puraan. Bagaimana dengan sikap itu inilah kenapa esensi pemikiran revolusi mental itu benar, tetapi tidak hanya sekadar ucapan, hanya slogan, ini yang membikin kita tidak akan memperoleh apa-apa.

 
Pertarungan dengan narasi untuk merusak persatuan harus kita lawan dengan cara apa? Tadi Pak Surya katakan pilihan betul, orang yang tidak mengerti bahwa mereka punya pilihan itu, dan mereka harus mengambil sikap apa atas pilihan itu?
 
Saya pikir ada empat hal yang harus kita lakukan. Pertama memberikan nilai-nilai informatif, kemudian persuasif yang edukatif. Kalau tiga hal ini tidak ada ya represif.
 
Ini harus berjalan secara paralel. Masyarakat yang belum memahami itu tentu perlu pemahaman yang lebih mendalam bangun kesadarannya harus kita bangkitkan. Di sana saya katakan perubahan ini tidak ada dalam posisi para elite saat ini, latar belakangnya apakah birokrat, pengusaha, wiraswasta, dan berada dalam pikiran-pikiran civil society saat ini.

 
Juga peran dari institusi partai-partai politik, jadi parpol harus memberikan perhatian secara khusus tidak hanya bicara yang cetek-cetek, pragmatis. Gue dapat apa kalau gue enggak dukung? mampus kita dengan pemikiran seperti ini.
 
Tidak lahir begitu saja pikir-pikiran yang membangkitkan semangat, ada harapan yang harus diberikan, harus kita coba, mari kita upayakan. Saya tidak bisa sendiri kecuali kita bersama. Tapi apa yang kita lihat? Pikiran-pikiran yang serba selfish egoistic bahkan membangun dinasti-dinasti dengan sistem yang lebih modern seperti ini.
 
Ini yang saya katakan kita terjebak dalam pragmatisme kita juga terjebak dalam kepura-puraan. Ini yang saya katakan tadi--kita garis bawahi--perubahan mindset kita diperlukan untuk kelanjutan kehidupan bangsa. Saya harapkan Jokowi sebagai Presiden sekaligus kepala negara berani untuk bersikap tidak populer, itu yang paling mutlak seperti situasi saat ini.

 
Tantangan besar sekali pilihan tidak menjadi populer jadi pilihan yang bisa dilakukan?
 
Yang paling hebat bisa populer dan bisa tidak populer. Tapi rasa-rasanya kalau aku tidak populer tetapi memberikan sesuatu yang berarti, pilihan itu lebih baik daripada populer untuk status quo apalagi setback ke belakang.
 
Soal realita politik hari ini ketika bapak letakkan perlu konsistensi dari lokomotif pembaruan yaitu parpol. Tapi hari ini rakyat dipertontonkan situasi berbeda. Ada yang malu-malu tapi mau, ada yang mau rekonsiliasi dengan syarat. Situasi seperti ini bagaimana ke depannya?
 
Ini perjuangan kita bersama membangun kesadaran. Bukan hanya harus dijalankan oleh satu kelompok tapi kita harus maju. Kita tidak bisa menyalahkan satu sama lain--aku yang paling benar kamu yang paling salah--semua kita harus bertanggung jawab atas kebenaran yang ada maupun kesalahan yang ada, di situ partisipasi politik yang saya maksud.
 
Karena posisinya dalam sistem demokrasi kita betapa sangat strategisnya arti kehadiran partai politik, dia pilar demokrasi, dia bisa atur. Baik itu membuat undang-undang perubahan, pilih presiden, pilih bupati, pilih gubernur, warna dari pada kehidupan kebangsaan itu mayoritas ditentukan oleh kebijakan-kebijakan dan pengawasan.
 
Suka tidak suka ini konsekuensi kita berdemokrasi di negeri ini jadi peran kontribusi parpol memajukan negeri ini luar biasa sangat besar. Peran (parpol) juga bisa melemahkan bahkan membikin mundur. Suatu bangsa juga bisa besar dari institusi parpol.
 
Saya hanya mengajak membangun kesadaran tentu semuanya paham apa arti koridor asas kepantasan kepatutan. Sepanjang ini menjadi pegangan kita bersama khususnya di institusi parpol saya pikir jalannya smooth saja. Negeri ini akan hebat, tapi karena kita banyak melanggar asas kepantasan dan kepatutan bahkan kita mempermainkan akal sehat kadang-kadang kita mencari celah hanya untuk membikin pembenaran. Ini membuat sesuatu yang melemahkan motivasi diri bagi siapapun yang ingin melihat negeri ini bergerak maju.

 
Apa konsekuensi sosial dan politik, jika ternyata ada yang mencari-cari celah seperti itu? Urusan politik adalah urusan kalkulasi?
 
Tentu 'mazhab' seseorang ataupun kelompok yang berperan dalam situasi parpol siapapun dan partai apa pun kalau filosofinya dia memang menyatakan ya sah-sah saja, yang paling penting adalah untuk kebesaran, kenikmatan, dan kepuasan--bagaimana kekuasaan itu harus kita peroleh--maka merupakan hal yang tidak terlalu mengejutkan karena memang 'mazhabnya' seperti itu.
 
Tapi ketika ada masalah lain berpikir ini tidak pantas, ini kita mempermainkan komitmen kita pada apa yang kita ikrarkan mendirikan partai ini. Di sini dia masih mempunyai namanya budaya malu, dia merasa ada sesuatu hal yang tidak pantas. Kita berharap 'mazhab' yang seperti ini semakin hari semakin banyak bukan semakin terpinggirkan.

 
Ribut soal kursi menteri, dulu menyerang sekarang ingin menyebrang. Kalau dikatakan sah-sah saja, NKRI ke depan terlalu berharga untuk menjadi taruhannya?
 
Saya pikir memiliki perspektif yang tidak terlalu berbeda; tidak ada yang salah ketika semuanya menginginkan sesuatu yang bisa sinergikan, kekuatan bersama itu penting. Tapi menjadi sesuatu yang tidak tepat ketika kita tidak mungkin menyingkirkan nilai-nilai edukasi.
 
Jadi arti kebersamaan itu juga tetap dalam koridor yang mengedukasi agar kecerdasan berpikir masyarakat, pemahaman masyarakat, proses pendidikan masyarakat tetap berjalan sebagaimana mestinya. Yang saya maksudkan sistem demokrasi yang ada harus tetap terjaga tidak boleh ketika pemerintah yang sudah menang dia ingin mencoba semuanya. Kalau bisa masuk dalam barisan ini sebanyak-banyaknya sehingga kekuatan oposisi lemah dan check and balance tidak hadir di tengah-tengah kehidupan sistem demokrasi kita, harus kita pelihara semangat berkompetisi, semangat saling memiliki, termasuk memberikan masukan dan kritik juga luar biasa baiknya.

 
Soal kalkulasi misalnya lebih menguntungkan bergabung dengan koalisi daripada oposisi atau sebaliknya. Lalu bagaimana tadi Bapak mengatakan menjaga pemerintahan ini perlu check and balance yang kuat ketika kemudian satu posisi lebih dominan tidak seimbang bagaimana memberikan pemahaman itu?
 
Saya pikir negara kita memiliki sebuah sistem yang sudah sangat teratur yaitu sistem demokrasi dengan tetap menggunakan sistem presidensial. Hak prerogatif itu ada di tangan Presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Presiden didukung oleh partai koalisi. Presiden saya pikir tentu bisa membaca apa yang terbaik, merasakan dan mengarahkan untuk kelanjutan proses perjalanan kehidupan kebangsaan kita. Kalau memang yang terbaik memerlukan lagi tambahan yang sebelumnya berada di luar barisan partai-partai koalisi apa salahnya? tapi saya harus ingatkan itu hanya sekedar mengakomodasi demi harapan kita bisa bekerja bersama-sama. Mungkin belum tentu itu akan tercapai sebagaimana yang diharapkan.
 
Maka dari itu harus bisa menjadi suatu--katakanlah, komunikasi batiniyah yang terjaga sedemikian rupa memang ada unsur ketulusan keikhlasan dan keinginan sungguh-sungguh membangun negeri ini. Artinya dalam perspektif yang sama kalau memang pemerintahan sekarang dianggap oleh kawan-kawan yang di luar pemerintahan inilah pemerintahan yang tepat memang bagus harus didukung izinkan kami ingin mendukung, apa yang salah? Tetapi pertanyaannya apakah realitasnya sudah? Itu harus ada proses hantaran lebih jauh komunikasi lebih intens barangkali tidak hanya bisa kita pertempuran hari ini selesai, kemudian hal ini harus rukun dan damai.
 
Saya perlu mengingatkan jangan nanti soliditas koalisi pendukung pemerintahannya sendiri yang justru terganggu, saya berharap ini tidak terjadi. Saya berharap soliditas tetap terjaga, juga kalau bisa menambah harapan saya komunikasi dengan pihak luar itu harus terjalin membangun komunikasi yang lebih cair yang lebih dekat yang lebih menghargai dan lebih bisa mengajak walaupun belum tentu ajakan itu berarti kita harus duduk bersama-sama.
 
Apa artinya kita sekarang memisahkan ada berapa partai di luar pemerintahan lalu kita pilih partai A saja tinggalkan partai B ini juga yang harus menjadi pertanyaan. Namanya kita mau membangun kesadaran bersama belum apa-apa kita sudah memecah belah di antara partai oposisi yang ada di luar pemerintah.
 
Itu barangkali kesan dan pandangan banyak pihak, saya harapkan tidak terjadi. Di pikiran-pikiran yang memang diniatkan dengan keikhlasan ketulusan Presiden Jokowi misalnya berpikir saya lebih menginginkan dan mengedepankan kepentingan nasional, betapa mulianya pikiran seperti itu. Maka salah satu keinginan saya harusnya tidak ada terjadi polarisasi lagi para pendukung baik itu 01 dan 02, itu salah satu barangkali yang bisa saya tawarkan. Mengajak para kawan-kawan yang selama ini berseberangan ikut bersama-sama dalam pemerintahan. Sebenarnya niatnya baik sekali tetapi dalam realitasnya ada konsekuensi yang harus dibayar di sana; pendatang baru kikuk, yang lama juga kikuk. Ini harus kita lihat, jangan energi yang ada dengan waktu terbatas lima tahun ini terbuang untuk hal-hal yang barangkali demi merapatkan barisan yang sebenarnya bukan itu lagi urusan kita.

 
Bicara soal persatuan dan realitas masyarakat hari ini yang masih terpecah polarisasi. Ada wacana rekonsiliasi yang diharapkan. Sampai hari ini belum terjadi pertemuan Jokowi-Prabowo. Atau ada cara rekonsiliasi yang lain dengan tujuan lebih baik?
 
Rekonsiliasi ini diperlukan untuk bangsa ini tetapi pemahaman rekonsiliasi seperti apa? Kalau hanya masalah kita berkompetisi dalam status acara pemilihan umum yang telah diamanatkan oleh undang-undang, masing-masing punya pilihan memiliki jagoannya kemudian selesai sudah kemudian kita katakan rekonsiliasi.
 
Artinya apa? Memang sudah hancur lebur kita maka perlu rekonsiliasi, kalau hanya berbeda pendapat--saya enggak suka pilihan kamu, aku enggak mau pilih kamu, dia enggak saleh, punya orang lebih saleh, apa yang perlu direkonsiliasi? Perbedaan pandangan kita sekarang menganut sistem demokrasi. Demokrasi yang super liberal kita akui bersama-sama, sepakat, alur pikir kita berada dalam posisi dan praktik sistem demokrasi seperti ini.
 
Perlu dipertanyakan kalau kita selama ini menjalankan sistem musyawarah dan mufakat terpecah-belah ya kita duduk untuk rekonsiliasi. Ini konsekuensi dari free fight, memang begini. Wajar ada proses hantaran. Jangan bermain-main dengan sistem demokrasi seperti ini, memang hak kebebasan itu dimiliki oleh siapa saja menganut sistem demokrasi tapi syaratnya bisa efektif.
 
Kita bangun kesadaran penyertaan kewajiban, memahami kewajiban apa yang harus dijalani oleh setiap warga negara yang memiliki dan memilih sistem demokrasi seperti ini dengan bangun kesadaran ada sportivitas di sana, fairness di sana, bukan hanya aku yang bisa berbicara orang lain pun bisa berbicara kalau ada ketimpangan sosial. Mari kita bilang rekonsiliasi sebenarnya.
 
Pemahaman rekonsiliasi itu sendiri yang harus kita tempatkan pada posisi yang tepat. Ini harus segera pertemuan Jokowi-Prabowo, memang mereka pemimpin tapi belum tentu 100% para pengikutnya sepakat dengan pikiran-pikiran itu. Pengikut, baik yang ada di pihak Jokowi maupun di pihak Prabowo akhirnya tidak akan muncul rekonsiliasi itu

 
Jadi bukan hanya sekadar basa-basi?
 
Retorik dan kemudian hanya konsumsi lips service tidak datang dengan pemahaman kesadaran ketulusan keikhlasan hati. Itu konsekuensinya. Rekonsiliasi harus ada--meminta maaf atas kesalahannya yang satu, saya akan memaafkan kesalahan kamu--bisa enggak kita capai tingkat itu?
 
Bisa?
 
Menurut saya tidak gampang, sederhana. Kita lihat untuk mengucapkan selamat kepada pemenang itu masih berat jadi artinya bisa saja kita coba menerjemahkan ada satu proses yang harus kita lalui bersama.
 
Soal kabinet tapi NasDem konsisten soal tanpa mahar. Ada partai lain yang gunakan pertemuan dengan Presiden coba menawarkan nama dan posisi. Bagaimana dengan NasDem Terutama dengan komitmennya mendukung pemerintahan Jokowi Amin 5 tahun ke depan?
 
Tetap pada komitmen semula, tetap pada prinsip-prinsip dasar, semua kita serahkan kepada presiden yang memiliki hak prerogatif. Nasdem boleh dipakai boleh juga tidak, ini milik kita bersama. Ada ketulusan di sana, ada keikhlasan. Kita juga memberikan dukungan atas dasar kesadaran dalam perspektif dua pendekatan.
 
Satu, pendekatan akal sehat kedua nurani. Kalau akal sehat kita terganggu ya kita tidak akan memberikan dukungan. Untuk apa kita mendukung kalau itu bertentangan dengan akal sehat kita. Kita dukung presiden Jokowi sama dengan periode pertama dan kedua karena akal sehat kita, batiniyah nurani kita ada di sana. Jadi itu yang kita maksudkan hubungan secara total kalau memang totalitas kita jalankan konsisten ini.
 
Jadi bagi Nasdem bukan terlalu kita mengada-ada, saya pikir mutual understanding saling menghargai saling menghormati telah termiliki selama ini ide membikin Nasdem nyaman malu rasanya hati saya sebagai ketua umum partai bicarakan Nasdem dapat kursi berapa kursinya posisinya apa, itu merendahkan saya dan Nasdem. Izinkan saya mengatakan itu sesungguhnya prinsip dasar yang harus kita pegang.

 
Apakah itu mengganggu soliditas koalisi ke depan. NasDem mengambil langkah ini tapi partai lain memiliki langkah yang lain?
 
Ada kewajiban Nasdem untuk menghargai pikiran dan langkah partai lain yang mungkin tidak sama dengan Nasdem itu kewajiban untuk menghargai bukan menentangnya. Di sini tingkat kedewasaan kita dibutuhkan bersama apa yang kita cari sebagai seorang politisi kita mampu mencetak negarawan hadir di negeri ini. Kalau partai politik, para politisinya berhenti hanya mampu pada tingkat sebagai politisi semata, saya pikir tidak memberikan sumbangan yang berarti untuk negeri ini.
 
Soal raihan kursi NasDem di pemilu tahun ini anda puaskah?
 
Saya bersyukur untuk itu. Kepuasan itu relatif, paling tidak ada satu langkah maju ke depan, ada peringkatnya lebih baik dan ini sekaligus tantangan yang lebih besar lagi. Kerja-kerja politik yang lebih mampu dalam satu tingkat evaluasi yang lebih luas dan memperbaiki kekurangan pernah kita lakukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pasti banyak kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh partai dan ini kewajiban bagi seluruh stakeholder partai untuk memperbaiki, memberikan komitmen baru pada diri kita ingin lebih baik dalam menyongsong perjalanan partai ke depan
 
Pertemuan dengan Presiden kemarin disampaikan ucapan terima kasih dari Presiden? Adakah makna ucapan tersendiri dari ucapan ini karena tentu memilki andil yang besar dalam pemenangan?
 
Saya pikir yang pasti Nasdem amat sangat menghargai juga ucapan terima kasih Pak Jokowi. Ini juga sekaligus menambah energi dan motivasi diri untuk bekerja lebih baik, untuk menjadi--katakanlah mendukung jalannya strategi pemerintahan yang lebih produktif karena banyak tugas-tugas besar yang saya harapkan Presiden Jokowi akan lebih mampu mengeluarkan output kinerjanya lebih baik dari periode pertama.
 
Saya yakin ada kemauan, ada tekad, ada semangat, yang ada dalam diri seorang Jokowi. Ini harus didorong terus, dijaga terus, dan insyaallah akan berjalan sebagaimana kita harapkan. Negeri ini butuh sekali suatu kepemimpinan kepala pemerintahan sekaligus kepala negara yang memberikan seluruh komitmen yang ada pada dirinya. Merevitalisasi situasional, kondisi kelemahan yang ada dan yang paling mendasar sebagai pesan moral prinsip-prinsip ideologi yang kita miliki sebagai suatu bangsa yang semakin hari harus saya katakan secara jujur semakin mulai ditinggalkan anak-anak negeri ini dan ini tidak boleh berjalan terus. Harus ada keberanian dan kemauan langkah-langkah strategis seluruh kebijakan bermuatan pada penguatan revitalisasi ideologi kebangsaan untuk kelanjutan NKRI apabila ini tidak dilaksanakan hanya dianggap merupakan suatu slogan omong kosong ideologi, tidak berarti apa-apa untuk interaksi sosial kehidupan kita. Saya katakan bersiap-siaplah untuk kita tidak memiliki lagi NKRI ke depan.

 
Bagaimana dengan anak muda? Politisi muda yang juga diharapkan mampu mengisi kabinet dan pemerintahan, memasukan energi segar itu ke dalam roda pemerintahan yang berjalan. Adakah harapan?
 
Ada tetapi di mana pun diperlukan syarat setiap kelompok memiliki pemimpin negara. Jokowi sekarang memegang tugas dan beban begitu besar, tantangan lebih besar. Ini konsekuensi. Tidak mudah menjadi pemimpin yang besar mengantarkan apa yang diharapkan apa yang telah dijanjikan. Jokowi memerlukan dukungan dari rakyatnya sendiri. Rakyat yang tulus, yang berpikir untuk membangun negeri ini. Itu yang saya lihat dalam perspektif apa yang saya pahami.
 
5 tahun ke depan akan seperti apa? Banyak harapan?
 
Pertama saya katakan penting sekali untuk tidak populer artinya stabilitas tidak ada tawar-menawar. Baik stabilitas bidang politik atau ekonomi. Kalau stabilitas ini tidak mampu dipertahankan terjadi kegoncangan dan tidak ada hasil apa-apa, yang ada mungkin kita akan lebih mundur bahkan at all cost apa pun stempel yang akan diberikan kepada pemerintah saya berharap dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada pemerintah yang mampu menjaga stabilitas. Stabilitas tidak mampu dijaga artinya apa? Kehidupan bangsa ini tidak bisa terjaga. Pilihan mana yang mau kita ambil?
 
Beranikah Jokowi mengambil pilihan itu?
 
Jokowi yang paling tahu tapi yang saya pahami insyaallah dia akan mampu.
 
Terakhir, bagaimana bapak sebagai tokoh bangsa melihat hari ini persaingannya besar dengan negara lain. Sementara Indonesia harus tempur ke depan apa yang harus kita lakukan segera?
 
Berpikir secara lebih realistis. Kita perlu evaluasi ulang secara nasional seluruh pikiran-pikiran kita. Memang motor penggerak utama adalah pemerintah, jadi untuk apa kita berpikir yang hanya membuang energi, waktu percuma, kita tidak realistis. Kita harus bisa menggerakkan seluruh potensi yang kita miliki dan fokus untuk itu
 
Kenapa sulit sekali mengajak berpikir realistis?
 
Karena kita telah terbiasa untuk selalu datang dengan pendekatan kulit luar dan terbiasa melihat semuanya dalam perspektif pendekatan dari luar, tidak menyentuh substansi isi. Kita mau semuanya dan kita mau transparansi. Kita mau pemberantasan korupsi, kita mau clean government, mau disiplin nasional, hadir etos kerja yang bagus, dan orang dengan kepribadian yang baik.
 
Kalau bisa semuanya juga memberikan penghormatan kepada nilai-nilai yang religius, semua kita mau, tapi sejauh mana langkah-langkah kita mampu pergerakan yang kita jalankan sendiri? Mengukur ketika kita berbicara semua modernisasi dan teknologi informasi yang begitu hebat masuk di negeri kita. Kita masih saling menyalahkan untuk urusan tetek-bengek tetapi kita tidak ada keberanian untuk mentertawakan kebodohan kita sendiri.
 
Sekarang prinsip yang edukasi masyarakat dimulai dari para elite bangsa ini. Marilah bersama-sama memberikan keteladanan mampu mentertawakan kebodohan diri masing-masing, itu yang diperlukan di negeri ini.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif