medcom.id, Jakarta: Belum lepas dari ingatan Priyo Budi Santoso, jalannya sidang paripurna RUU Pilkada. Wakil Ketua DPR RI itu memimpin sidang yang sempat ricuh sebelum mengetok palunya tiga kali ke meja.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya, diputuskan rakyat tidak bisa memilih langsung kepala daerahnya pada pilkada mendatang.
Kepemimpinan Priyo dinilai tak demokratis. Salah satunya, kebijakan kontroversial yang diambilnya saat mengetuk palu untuk penetapan dua opsi yang akan di-voting. Keputusan itu, menuai hujan interupsi dari anggota DPR, terutama yang dari Fraksi Demokrat.
Namun, dia mengaku bertindak profesional dalam memimpin sidang tersebut, kendati secara pribadi, dia tak bisa dipisahkan oleh kepentingan partainya, Golkar. Partai berlambang beringin itu mendukung pengesahan RUU Pilkada.
Priyo menilai keputusan tersebut adalah demokratis. Sebab, dua opsi yang disahkan olehnya, hasil dari kesepakatan lobi yang berlangsung selama lebih dari empat jam tersebut.
"Opsi Demokrat tidak bisa dimasukkan sebagai opsi ketika di lobi. Itulah yang saya laporkan bersama tiga pimpinan lainnya. Deeeerrr. Begitu dilaporkan, hujan interupsi sampai basah kuyup. Banyak yang protes. Saya belum kasih kesempatan, tapi dipencet semua. 'Opsi Demokrat' 'Opsi Demokrat'. Padahal opsi sesunggunya tidak lolos di lobi, meskipun itu hak anggota untuk mengatakan apapun," kata Priyo di dalam diskusi yang bertajuk 'Drama Parlemen' di Warung Daun, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/9/2014).
Sejumlah anggota DPR meminta Priyo untuk mencabut keputusan itu dengan gelombang protes yang muncul.
Namun, dia sudah menduga akan adanya hujan interupsi atas kesepakatan lobi tersebut. Walau tidak sampai berpikiran akan ada sejumlah anggota DPR yang maju, merangsak dan mendekati meja pimpinan.
"Saya tetap tenang, senyum. Saya tahu pasti ada protes. Saya tahu tidak mudah. Dan sudah saya hitung, pasti akan terjadi hujan interupsi. Yang saya tidak hitung adalah bahwa mereka merangsak ke meja pimpinan. Tapi kalau mereka interupsi, sudah saya hitung," tukas Priyo.
Diapun enggan mencabut keputusan itu, kendati sejumlah anggota DPR menghujatnya dan ada juga yang mengingatkan agar tidak dicabut. Priyo hanya mencoba terus untuk tenang, tidak mengambil keputusan apa-apa.
"Karena saya amankan hasil lobi dari pimpinan fraksi. Karena itu, saya tidak mencabut apapun, lantaran ditekan. Saya tetap tenang saja," tukas Priyo.
Menurutnya, sebagai manusia biasa, dia juga deg-degan.
"Saya tidak mau ditekan, dicabut atas sesuatu yang saya yakin benar, termasuk ini juga hasi lobi dari para pimpinan tertinggi masing-masing," ujar Priyo.
Dia memutuskan akan mencabut keputusan ketika suasana kondusif. Bahkan, tekanan dari pimpinannya tertinggi di partai, akan dia tolak. Sebagai pimpinan, kata dia, nalurinya harus jalan, menerima masukan dari semua pihak. Akhirnya, Priyo mencabut, ketika suasana sudah tenang.
Meski demikian, Demokrat yang dinilai membuat situasi ramai dalam sidang tersebut, akhirnya menarik diri dari persidangan. "Seperti durian runtuh," aku Priyo sebagai kader Golkar.
medcom.id, Jakarta: Belum lepas dari ingatan Priyo Budi Santoso, jalannya sidang paripurna RUU Pilkada. Wakil Ketua DPR RI itu memimpin sidang yang sempat ricuh sebelum mengetok palunya tiga kali ke meja.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya, diputuskan rakyat tidak bisa memilih langsung kepala daerahnya pada pilkada mendatang.
Kepemimpinan Priyo dinilai tak demokratis. Salah satunya, kebijakan kontroversial yang diambilnya saat mengetuk palu untuk penetapan dua opsi yang akan di-voting. Keputusan itu, menuai hujan interupsi dari anggota DPR, terutama yang dari Fraksi Demokrat.
Namun, dia mengaku bertindak profesional dalam memimpin sidang tersebut, kendati secara pribadi, dia tak bisa dipisahkan oleh kepentingan partainya, Golkar. Partai berlambang beringin itu mendukung pengesahan RUU Pilkada.
Priyo menilai keputusan tersebut adalah demokratis. Sebab, dua opsi yang disahkan olehnya, hasil dari kesepakatan lobi yang berlangsung selama lebih dari empat jam tersebut.
"Opsi Demokrat tidak bisa dimasukkan sebagai opsi ketika di lobi. Itulah yang saya laporkan bersama tiga pimpinan lainnya. Deeeerrr. Begitu dilaporkan, hujan interupsi sampai basah kuyup. Banyak yang protes. Saya belum kasih kesempatan, tapi dipencet semua. 'Opsi Demokrat' 'Opsi Demokrat'. Padahal opsi sesunggunya tidak lolos di lobi, meskipun itu hak anggota untuk mengatakan apapun," kata Priyo di dalam diskusi yang bertajuk 'Drama Parlemen' di Warung Daun, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/9/2014).
Sejumlah anggota DPR meminta Priyo untuk mencabut keputusan itu dengan gelombang protes yang muncul.
Namun, dia sudah menduga akan adanya hujan interupsi atas kesepakatan lobi tersebut. Walau tidak sampai berpikiran akan ada sejumlah anggota DPR yang maju, merangsak dan mendekati meja pimpinan.
"Saya tetap tenang, senyum. Saya tahu pasti ada protes. Saya tahu tidak mudah. Dan sudah saya hitung, pasti akan terjadi hujan interupsi. Yang saya tidak hitung adalah bahwa mereka merangsak ke meja pimpinan. Tapi kalau mereka interupsi, sudah saya hitung," tukas Priyo.
Diapun enggan mencabut keputusan itu, kendati sejumlah anggota DPR menghujatnya dan ada juga yang mengingatkan agar tidak dicabut. Priyo hanya mencoba terus untuk tenang, tidak mengambil keputusan apa-apa.
"Karena saya amankan hasil lobi dari pimpinan fraksi. Karena itu, saya tidak mencabut apapun, lantaran ditekan. Saya tetap tenang saja," tukas Priyo.
Menurutnya, sebagai manusia biasa, dia juga deg-degan.
"Saya tidak mau ditekan, dicabut atas sesuatu yang saya yakin benar, termasuk ini juga hasi lobi dari para pimpinan tertinggi masing-masing," ujar Priyo.
Dia memutuskan akan mencabut keputusan ketika suasana kondusif. Bahkan, tekanan dari pimpinannya tertinggi di partai, akan dia tolak. Sebagai pimpinan, kata dia, nalurinya harus jalan, menerima masukan dari semua pihak. Akhirnya, Priyo mencabut, ketika suasana sudah tenang.
Meski demikian, Demokrat yang dinilai membuat situasi ramai dalam sidang tersebut, akhirnya menarik diri dari persidangan. "Seperti durian runtuh," aku Priyo sebagai kader Golkar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(BOB)