Komisi I DPR saat meninjau PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 15 November 2019. Dok: istimewa
Komisi I DPR saat meninjau PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 15 November 2019. Dok: istimewa

Riset Dinilai Penting untuk Mengembangkan Industri Pertahanan

Nasional pertahanan negara
Arga sumantri • 15 November 2019 22:14
Bandung: Anggota Komisi I DPR Willy Aditya menyebut industri pertahanan nasional membutuhkan paradigma baru. Industri pertahanan dianggap bukan semata kebutuhan pertahanan, namun masuk ke tahap yang lebih strategis.
 
"Kebutuhan akan riset dan pengembangan dipandang bisa menjadi awal dari tahap tersebut," kata Willy saat meninjau PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 15 November 2019.
 
Willy mengatakan paradigma industri pertahanan tidak bisa parsial, melainkan harus holistik dan integratif. Apabila tidak dimulai, kata dia, industri pertahanan Indonesia akan terus tertinggal. Bisa jadi Indonesia hanya jadi konsumen atau mungkin produsen tanpa skema industri memadai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena itu, keseriusan kita pada riset dan development saya kira bisa menjadi awalannya," ujarnya.
 
Legislator NasDem itu mengatakan pengembangan industri pertahanan bisa dimulai dari membangun kemampuan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, hingga memproduksi senjata, kendaraan, dan alat sendiri. Bila tidak dimulai, maka Indonesia tidak akan punya nilai tawar terhadap negara lain.
 
Ia menambahkan kekuatan pertahanan negara-negara di dunia saat ini tidak sekadar didukung oleh banyaknya personel militer aktif. Ketersediaan dan kemampuan akan teknologi yang canggih juga menjadi komponen pendukung lainnya.
 
"Nah, salah satu mekanisme penguasaan teknologi pertahanan ini tentunya adalah melalui riset yang komprehensif," ungkapnya.
 
Willy melanjutkan riset yang komprehensif adalah riset yang dilakukan dalam rangka mengembangkan industri pertahanan yang integratif. Artinya, industri pertahanan nasional tidak hanya bertumpu pada sektor manufaktur, dalam hal ini Pindad.
 
Menurut dia, industri pertahanan nasional juga harus terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya. Misalnya, industri penerbangan, telekomunikasi, industri kapal, hingga industri pengembangan teknologi nuklir. "Jika ini terjadi, saya kira kita bisa menjadi negara adidaya ketiga," ucap Willy.
 
Ia menyadari perlu upaya lebih untuk menuju industri pertahanan nasional yang terintegrasi. Selain belum ada payung hukum, kesadaran semua pihak terkait juga menjadi sangat penting.
 
“Saya berharap kesadaran ini tidak hanya ada dalam kepala saya, melainkan juga teman-teman yang lain, sehingga dalam upaya merealisasikannya tidak terlalu sulit. Saya berharap ini bukan hanya mimpi saya seorang," pungkasnya.

 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif