medcom.id, Jakarta: Kiriman karangan bunga terhadap berbagai instansi terus mengalir. Fenomena pengiriman karangan bunga ini bermula saat pasangan petahana Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat gagal memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.
Tak tanggung-tanggung, ribuan karangan bunga mengalir ke kantor Ahok-Djarot di Jalan Medan Merdeka Selatan dengan berbagai macam ungkapan pesan. Fenomena ini dinilai sebagai gerakan silent majority yang enggan menumpahkan aspirasinya melalui aksi turun jalan. Seperti dilakukan ormas yang tergabung dalam Gerakan Nasional Penyelamat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) dalam beberapa bulan terakhir.
Bahkan, fenomena kiriman karangan bunga pun merembet ke berbagai daerah. Namun, sebagian pihak menilai peristiwa ini justru didesain kelompok tertentu alias by design. Bukan sebuah kesadaran serta kebetulan belaka.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon enggan berspekulasi lebih jauh terkait fenomena itu. Walaupun Fadli turut merasakan langsung, tetiba menerima karangan bunga dari orang misterius.
"Saya kira, kita harus syukuri untuk pedagang bunga, ya panenlah. Panen raya pedagang bunga," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 5 Mei 2017.
Namun Fadli menegaskan semua pihak harus dapat membedakan mana yang dinamakan karangan bunga dan mana yang disebut bunga karangan. Semua tergantung dari sumber utama pemesannya.
"Jadi kalau karangan bunga itu atas inisiatif pribadi. Kalau bunga karangan, asal punya uang kita bisa kirim sebanyak-banyaknya. Misalnya kita mau kirim 100 karangan bunga, 1.000 karangan bunga, juga bisa," kata dia.
medcom.id, Jakarta: Kiriman karangan bunga terhadap berbagai instansi terus mengalir. Fenomena pengiriman karangan bunga ini bermula saat pasangan petahana Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat gagal memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.
Tak tanggung-tanggung, ribuan karangan bunga mengalir ke kantor Ahok-Djarot di Jalan Medan Merdeka Selatan dengan berbagai macam ungkapan pesan. Fenomena ini dinilai sebagai gerakan silent majority yang enggan menumpahkan aspirasinya melalui aksi turun jalan. Seperti dilakukan ormas yang tergabung dalam Gerakan Nasional Penyelamat Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) dalam beberapa bulan terakhir.
Bahkan, fenomena kiriman karangan bunga pun merembet ke berbagai daerah. Namun, sebagian pihak menilai peristiwa ini justru didesain kelompok tertentu alias by design. Bukan sebuah kesadaran serta kebetulan belaka.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon enggan berspekulasi lebih jauh terkait fenomena itu. Walaupun Fadli turut merasakan langsung, tetiba menerima karangan bunga dari orang misterius.
"Saya kira, kita harus syukuri untuk pedagang bunga, ya panenlah. Panen raya pedagang bunga," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 5 Mei 2017.
Namun Fadli menegaskan semua pihak harus dapat membedakan mana yang dinamakan karangan bunga dan mana yang disebut bunga karangan. Semua tergantung dari sumber utama pemesannya.
"Jadi kalau karangan bunga itu atas inisiatif pribadi. Kalau bunga karangan, asal punya uang kita bisa kirim sebanyak-banyaknya. Misalnya kita mau kirim 100 karangan bunga, 1.000 karangan bunga, juga bisa," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)