Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Medcom.id/M Sholahadhin Azhar

Perseteruan Muhaimin-Keluarga Gus Dur Pernah Berdampak Buruk pada PKB

Anggi Tondi Martaon • 27 Juni 2022 12:50
Jakarta: Hubungan Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dengan keluarga Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali memanas. Kondisi ini pernah terjadi dan menggerus suara PKB di Pemilu 2009.
 
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menyampaikan memanasnya hubungan Muhaimin dengan keluarga Gus Dur bukan yang pertama kali terjadi. Hal itu terjadi pada 2004 dalam perebutan kepengurusan partai antara Gus Dur dan Muhaimin.
 
"Nah ini berlangsung beberapa tahun dan konfliknya terutama pada level hukum sampai akhirnya MA memenangkan Muhaimin Iskandar," kata Qodari saat dihubungi, Senin, 27 Juni 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menyampaikan konflik internal tersebut berdampak pada perolehan suara PKB. Terjadi penurunan dari Pemilu 2004 dengan perolehan suara 10,57 persen menjadi 4,94 persen pada Pemilu 2009.
 
"Walaupun kemudian di 2014 mengalami peningkatan lagi karena konflik di PKB dalam tanda kutip konflik sudah selesai dari Aspek hukum," ungkap dia.
 
Menjelang Pemilu 2024, hubungan antara Muhaimin dan keluarga Gus Dur kembali memanas. Meskipun konflik kali ini berbeda dengan sebelumnya.
 
Muhaimin tak hanya berseteru dengan keluarga Gus Dur. Muhaimin juga tak akur dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pimpinan Yahya Staquf setelah organisasi itu masuk politik praktis.
 
"Bahkan terjadi pernah semacam perang pernyataan juga antara PKB dengan PBNU," sebut dia.
 

Baca: Yenny Wahid Sebut PKB Tidak Sehat Dipimpin Muhaimin Iskandar


Keluarga Gus Dur juga kini banyak menempati posisi strategis dalam kepengurusan PBNU periode ini. Seperti istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, yang dipercaya menduduki posisi Mustasyar.
 
"Jadi boleh dibilang keluarga Gus Dur itu sudah menemukan tempat lagi di PBNU," sebut dia.
 
Namun, dia belum bisa memprediksi apakah kondisi tersebut berdampak pada suara PKB pada Pemilu 2024. Hal itu tergantung dinamika politik ke depan.
 
"Apakah kemudian bisa menurunkan atau tetap suara PKB itu menjadi tanda tanya, mungkin ada persamaan tapi ada bedanya dengan konflik PKB sebelum 2009," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif