medcom.id. Jakarta. Ketum DPP Partai Demokrat Susilo B. Yudhoyono membantah dirinya memberi perintah walkout kepada Fraksi Demokrat dari sidang paripurna DPR pengesahan RUU Pilkada. Terlepas siapa dalang walkaout, drama pada tengah malam itu menyisakan pertanyaan tentang seberapa kuat pengaruh SBY terhadap Demokrat.
"Apa memang legitimasi SBY sebagai ketua umum dan ketua dewan pembina sudah tidak ada sehingga anggota fraksi bisa ke mana-mana begitu?" ujar ujar pengamat politik dari LIPI Ikra Nusa Bakti dalam Bincang Pagi Metro TV, Sabtu (27/9/2014).
Perihal walkout atas perintah SBY, disampaikan oleh Jubir DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengutip pernyataan Waketum DPP PD Max Sopacua. Max menurut Ruhut mengaku mendapat persetujuan walkout melalui SMS yang SBY kirimkan dari New York, Amerika Serikat.
Tetapi kabar itu dibantah SBY, bahkan dirinya sangat kecewa fraksi Demokrat memilih walkout. Politisi anggota fraksi yang walkout akan dijatuhi sanksi, terutama yang memberikan komando untuk walkout.
Di dalam pandangan Ikra, bantahan dan kekecewaan SBY sangat aneh. Seperti yang dilansir dalam videonya di YouTube, sebagai seorang politisi senior SBY sadar benar bahwa RUU Pilkada sangat menentukan masa depan iklim demokrasi Indonesia.
"Maka tidak mungkin sebagai ketum, dia membiarkan anggotanya begitu saja untuk sebuah keputusan yang sangat penting seperti," imbuh Ikra.
Tidak ada alasan bahwa pada saat tersebut SBY sedang dalam kunjungan kerja ke New York, Amerika Serikat. Terlebih ada Ketua Harian DPP PD Syarief Hasan di balkon ruang sidang paripurna DPR yang bisa memberikan pengarahan langsung melalui telepon kepada Ketua Fraksi Demokrat Nurhayati Assegaf.
"Apakah benar ada SMS dari SBY, itu kan mudah sekali dibuktikannya. Ataukah itu sekedar buah pemikiran dari Benny K Harman dan Nurhayati," papar Ikra.
medcom.id. Jakarta. Ketum DPP Partai Demokrat Susilo B. Yudhoyono membantah dirinya memberi perintah
walkout kepada Fraksi Demokrat dari sidang paripurna DPR pengesahan RUU Pilkada. Terlepas siapa dalang
walkaout, drama pada tengah malam itu menyisakan pertanyaan tentang seberapa kuat pengaruh SBY terhadap Demokrat.
"Apa memang legitimasi SBY sebagai ketua umum dan ketua dewan pembina sudah tidak ada sehingga anggota fraksi bisa ke mana-mana begitu?" ujar ujar pengamat politik dari LIPI Ikra Nusa Bakti dalam Bincang Pagi Metro TV, Sabtu (27/9/2014).
Perihal walkout atas perintah SBY, disampaikan oleh Jubir DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengutip pernyataan Waketum DPP PD Max Sopacua. Max menurut Ruhut mengaku mendapat persetujuan walkout melalui SMS yang SBY kirimkan dari New York, Amerika Serikat.
Tetapi kabar itu dibantah SBY, bahkan dirinya sangat kecewa fraksi Demokrat memilih walkout. Politisi anggota fraksi yang walkout akan dijatuhi sanksi, terutama yang memberikan komando untuk walkout.
Di dalam pandangan Ikra, bantahan dan kekecewaan SBY sangat aneh. Seperti yang dilansir dalam videonya di YouTube, sebagai seorang politisi senior SBY sadar benar bahwa RUU Pilkada sangat menentukan masa depan iklim demokrasi Indonesia.
"Maka tidak mungkin sebagai ketum, dia membiarkan anggotanya begitu saja untuk sebuah keputusan yang sangat penting seperti," imbuh Ikra.
Tidak ada alasan bahwa pada saat tersebut SBY sedang dalam kunjungan kerja ke New York, Amerika Serikat. Terlebih ada Ketua Harian DPP PD Syarief Hasan di balkon ruang sidang paripurna DPR yang bisa memberikan pengarahan langsung melalui telepon kepada Ketua Fraksi Demokrat Nurhayati Assegaf.
"Apakah benar ada SMS dari SBY, itu kan mudah sekali dibuktikannya. Ataukah itu sekedar buah pemikiran dari Benny K Harman dan Nurhayati," papar Ikra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)