Ilustrasi. Foto: dok.MI
Ilustrasi. Foto: dok.MI

Legislator Menilai Masih Banyak Kepala Daerah Abai Stunting

Nasional bonus demografi stunting DPR RI Penanganan Stunting
Antara • 27 April 2022 22:52
Jakarta: Anggota Komisi IX DPR Ade Rezki Pratama menyayangkan masih ada kepala daerah yang masih abai terhadap persoalan stunting atau gagal tumbuh pada anak akibat gizi buruk. Menurut dia, program pengentasan stunting seharusnya masuk dalam RPJMD kepala daerah untuk mempersiapkan bonus demografi 2045.
 
“Kita melihat beberapa kepala daerah yang tidak memprioritaskan persoalan stunting dan tidak memasukkan dalam program kepala daerah terpilih," kata Ade saat sosialisasi percepatan penurunan stunting di Bukittinggi, dilansir Antara, Rabu, 27 April 2022.
 
Ade menuturkan angka stunting di Sumatera Barat masih aman namun perlu diwaspadai kenaikan usai adanya pandemi covid-19 yang bisa saja membuat pendampingan keluarga tidak berjalan dengan baik. Ia meyakini banyak warga yang sudah mengetahui apa itu stunting, namun masih dalam bentuk pengetahuan dan belum pada tahapan aktualisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Intervensi Sebelum Kelahiran Berpeluang Turunkan Angka Stunting hingga 12%
 
Dia mengatakan stunting bisa menjadi masalah luar bisa karena dapat menghambat pembangunan bangsa menjadi negara maju. Apabila banyak anak stunting, maka mereka tidak tumbuh dengan baik dan akan berdampak pada sumber daya manusia.
 
Dia mengatakan banyak faktor penyebab stunting. Mulai dari kurang gizi, pola asuh dan sanitasi, pola makan dan pengetahuan, serta kondisi ekonomi.
 
“Kita bersama harus bersungguh-sungguh mengentaskan stunting. Kami DPR RI terus dukung pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten menyediakan air bersih, embung, perbaikan rumah tidak layak huni, sanitasi ketersediaan MCK yang muaranya pada pengentasan stunting,” papar dia
 
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Fatmawati menjelaskan stunting adalah kondisi gagal tumbuh dan berkembang akibat gizi kronis dan infeksi berulang pada anak. Hal itu ditandai dengan anak lebih pendek dibandingkan anak seumurannya.
 
"Serta ada perlambatan pertumbuhan otak," jelas Fatmawati.
 
(DEV)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif