medcom.id, London: Sekelompok warga Negara Indonesia yang terdiri dari pelajar dan pekerja di London, Inggris, turut menyuarakan aspirasinya menolak pilkada melalui DPRD.
Di tengah hujan deras, mereka menggelar aksi damai dan aksi teatrikal di depan Gedung Parlemen Inggris, Sabtu, 4 Oktober, kemarin. Hujan yang mengguyur Kota London tak menyurutkan semangat pengunjuk rasa yang didominasi pelajar.
WNI di London menuntut demokrasi di tanah air ditegakkan kembali, dengan menetapkan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. Pelaksanaan pilkada melalui DPRD dianggap mencabut hak rakyat untuk memberikan suara dalam pemilihan kepala daerah.
Mereka berpendapat bahwa disahkannya undang-undang ini merupakan sebuah langkah mundur dalam proses berdemokrasi di Indonesia. Para demonstran juga mengutarakan lima poin dalam pernyataan sikapnya.
Salah satu diantaranya adalah meminta anggota DPR periode 2014-2019 untuk mendengarkan suara rakyat dan mengesahkan Perppu UU Pilkada yang telah ditandatangani Presiden.
Salah satu pelajar yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana di London, Ignasius rian, mengungkapkan bahwa selain di Inggris, perwakilan kelompok mahasiswa di Amerika Serikat dan Australia juga menggelar secara serentak aksi damai menolak pilkada tidak langsung.
Selain pernyataan sikap, pengunjuk rasa juga menggelar aksi teatrikal yang mengilustrasikan kemunduran demokrasi dengan mulut tersumpal kertas sebagai simbol suara rakyat yang dibungkam. Stand up comedian multitalenta Pandji Pragiwaksono turut serta dalam aksi demonstrasi damai.
Ia yakin rakyat akan bergerak bersama menghidupkan kembali demokrasi seperti yang sudah terjadi pada 1998 lalu.
Unjuk rasa yang dilakukan warga Negara Indonesia di London bukan yang pertama kalinya dilakukan. Pada 27 September lalu, mahasiswa dan pekerja warga Negara Indonesia melakukan unjuk rasa menolak sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
medcom.id, London: Sekelompok warga Negara Indonesia yang terdiri dari pelajar dan pekerja di London, Inggris, turut menyuarakan aspirasinya menolak pilkada melalui DPRD.
Di tengah hujan deras, mereka menggelar aksi damai dan aksi teatrikal di depan Gedung Parlemen Inggris, Sabtu, 4 Oktober, kemarin. Hujan yang mengguyur Kota London tak menyurutkan semangat pengunjuk rasa yang didominasi pelajar.
WNI di London menuntut demokrasi di tanah air ditegakkan kembali, dengan menetapkan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. Pelaksanaan pilkada melalui DPRD dianggap mencabut hak rakyat untuk memberikan suara dalam pemilihan kepala daerah.
Mereka berpendapat bahwa disahkannya undang-undang ini merupakan sebuah langkah mundur dalam proses berdemokrasi di Indonesia. Para demonstran juga mengutarakan lima poin dalam pernyataan sikapnya.
Salah satu diantaranya adalah meminta anggota DPR periode 2014-2019 untuk mendengarkan suara rakyat dan mengesahkan Perppu UU Pilkada yang telah ditandatangani Presiden.
Salah satu pelajar yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana di London, Ignasius rian, mengungkapkan bahwa selain di Inggris, perwakilan kelompok mahasiswa di Amerika Serikat dan Australia juga menggelar secara serentak aksi damai menolak pilkada tidak langsung.
Selain pernyataan sikap, pengunjuk rasa juga menggelar aksi teatrikal yang mengilustrasikan kemunduran demokrasi dengan mulut tersumpal kertas sebagai simbol suara rakyat yang dibungkam.
Stand up comedian multitalenta Pandji Pragiwaksono turut serta dalam aksi demonstrasi damai.
Ia yakin rakyat akan bergerak bersama menghidupkan kembali demokrasi seperti yang sudah terjadi pada 1998 lalu.
Unjuk rasa yang dilakukan warga Negara Indonesia di London bukan yang pertama kalinya dilakukan. Pada 27 September lalu, mahasiswa dan pekerja warga Negara Indonesia melakukan unjuk rasa menolak sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LAL)