Jakarta: Rekam jejak kandidat calon presiden (capres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pemilih. Munculnya informasi terkait rekam jejak kandidat merupakan hal positif dalam penyelenggaraan pemilu.
"Perdebatan ataupun diskursus soal latar belakang calon itu ada positifnya," kata anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini di Jakarta, Rabu, 21 September 2022.
Isu rekam jejak calon kandidat capres yang mengemuka sejak jauh hari atau sebelum masa pendaftaran bakal capres dan cawapres pada 19 Oktober 2023 dapat memberi cukup waktu bagi publik untuk menilai kualitas calon. Publik juga memang harus mendapatkan akses informasi rekam jejak para capres seluas mungkin.
"Itu akan memicu publik untuk meneliti dan menyelisik siapa sebenarnya mereka. Tetapi tidak cukup hanya pada perdeabatan yang sifatnya dipermukaan. Tapi masyarakat juga harus di dorong untuk menelusuri riwayat hidup yang valid atau rekam jejak yang valid," kata dia.
Titi menuturkan pembahasan rekam jejak para capres juga jangan terjebak pada disinformasi yang berujung pada informasi hoaks. Jika hal tersebut yang terjadi maka rekam jejak para capres akan bergeser dari kebenaran menjadi kebohongan.
"Di sini pentingnya parpol dan juga para kandidat potensial untuk memberikan akses soal rekam jejak yang memang betul-betul valid sebagai rujukan masyrakat. Selain juga mayrakat diminta menelusuri informasi dari sumber-sumber terpercaya. Karena kalau soal rekam jejak ini di manipulasi dengan penyebaran hoaks tentu akan membawa kerugian," tegas dia.
Jakarta: Rekam jejak kandidat
calon presiden (capres) di Pemilihan Presiden
(Pilpres) 2024 menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pemilih. Munculnya informasi terkait rekam jejak kandidat merupakan hal positif dalam penyelenggaraan
pemilu.
"Perdebatan ataupun diskursus soal latar belakang calon itu ada positifnya," kata anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini di Jakarta, Rabu, 21 September 2022.
Isu rekam jejak calon kandidat capres yang mengemuka sejak jauh hari atau sebelum masa pendaftaran bakal capres dan cawapres pada 19 Oktober 2023 dapat memberi cukup waktu bagi publik untuk menilai kualitas calon. Publik juga memang harus mendapatkan akses informasi rekam jejak para capres seluas mungkin.
"Itu akan memicu publik untuk meneliti dan menyelisik siapa sebenarnya mereka. Tetapi tidak cukup hanya pada perdeabatan yang sifatnya dipermukaan. Tapi masyarakat juga harus di dorong untuk menelusuri riwayat hidup yang valid atau rekam jejak yang valid," kata dia.
Titi menuturkan pembahasan rekam jejak para capres juga jangan terjebak pada disinformasi yang berujung pada informasi hoaks. Jika hal tersebut yang terjadi maka rekam jejak para capres akan bergeser dari kebenaran menjadi kebohongan.
"Di sini pentingnya parpol dan juga para kandidat potensial untuk memberikan akses soal rekam jejak yang memang betul-betul valid sebagai rujukan masyrakat. Selain juga mayrakat diminta menelusuri informasi dari sumber-sumber terpercaya. Karena kalau soal rekam jejak ini di manipulasi dengan penyebaran hoaks tentu akan membawa kerugian," tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JMS)