Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik suara saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019 tahap II. (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya).
Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik suara saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019 tahap II. (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya).

Simulasi Pemilu 2019 Diharap Lebih Intensif

Dian Ihsan Siregar • 01 Oktober 2017 02:33
medcom.id, Bogor: Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar simulasi tahap II pemungutan dan perhitungan suara di TPS untuk pemilu serentak di 2019. Simulasi tahap kedua dilaksanakan di bekas lokasi TPS 6, Kampung Kadumangu, Kelurahan Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. 
 
Simulasi tahap II ini digelar untuk mengetahui kesiapan alat peraga yang digunakan untuk pemilu di 2019 mendatang. ‎Simulasi digelar semirip mungkin dengan penyelenggaraan pemilu.
 
Bukan hanya 310 warga Kampung Kadumangu RT01/RW02 yang mengikuti simulasi tahap II, tapi Bupati Bogor Nurhayanti pun ikut andil dalam proses tersebut. 

Pada saat mengikuti, Nurhayanti merasa ada salah satu bilik suara terlalu kecil. "Sehingga tidak bisa membuka secara penuh surat suara. Pemahaman kepada masyarakat perlu ditingkatkan, agar tidak bingung, karena sebelah saya ada yang nanya juga," papar Nurhayanti di Bogor, Sabtu 30 September 2017.
 
Maka dari itu, dia berharap, simulasi bisa lebih diintensifkan ke daerah-daerah lainnya demi masyarakat paham aturan pada pelaksanaan Pemilu 2019 nanti.‎ 
 
"Tentunya simulasi ini memberikan pemahaman untuk pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang akan datang tahun 2019. Jadi kita bisa menghitung waktu rata-rata (pencoblosan)," terang Nurhayanti.
 
Sebelumnya, Anggota‎ Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ilham Saputra menguraikan, simulasi tahap kedua di Bogor meliputi tata cara pemungutan dan penghitungan suara yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan Peraturan KPU Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu 2019. 
 
Rincian simulasinya, terdiri dari tata cara mencoblos surat suara, simulasi tata kerja dan tugas masing-masing KPPS, simulasi pengisian formulir pemungutan dan Penghitungan suara.
 
"Kemudian, simulasi terhadap kemudahan akses bagi pemilih, simulasi mekanisme sampul turun di TPS dan samul dari TPS ke PPK, serta simulasi penggunaan segel," kata Ilham.
 
Melalui simulasi ini, bilang dia, KPU telah melakukan berbagai evaluasi terkait dengan penyelenggaraan simulasi tersebut. Adapun catatan evaluasi dalam simulasi tahap I tersebut antara lain waktu proses pemungutan dan penghitungan sampai dengan selesai di satu TPS dengan jumlah pemilih 500 orang membutuhkan waktu yang cukup lama. 
 
Waktu rata-rata pemilih memberikan suara 7-12 menit, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk proses penghitungan suara secara keseluruhan kurang lebih 9 jam‎ 40 menit.
 
Kemudian, Ilham mengatakan, masih ditemukannya surat suarayang salah dalam memasukkan kekotak suara sesuai dengan jenis pemilihannya‎. Petugas KPPS masih ada yang belum memahami tukasi pokok fungsi (tupoksi) masing-masing petugas, dan juga belum maksimal dalam menjalankan tugasnya, seperti mengarahkan pemilih untuk masuk ke TPS, sehingga terjadi penumpukan pemilih di luar TPS.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>