Ilustrasi--Jurnalis menyaksikan karya lukisan yang ditampilkan pada Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (31/7)--Antara/PUSPA PERWITASARI
Ilustrasi--Jurnalis menyaksikan karya lukisan yang ditampilkan pada Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (31/7)--Antara/PUSPA PERWITASARI

Istana Konservasi Lukisan Karya Basoeki Abdullah

Nasional lukisan
Antara • 06 Agustus 2017 17:30
medcom.id, Jakarta: Istana Kepresidenan melakukan konservasi terhadap lukisan karya Basoeki Abdullah berjudul "Pantai Flores". Lukisan tersebut merupakan salah satu lukisan dari koleksi Bung Karno pada 1942.
 
Lukisan yang dipajang di ruang Cenderamata, Istana Negara Jakarta, mengalami kerusakan hingga 70 persen.
 
Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan, lukisan tersebut dilukis dengan cat minyak di atas kanvas. Lukisan itu merupakan aset Istana bernilai Rp1.572.500.000.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karya ini mengingatkan kita bahwa Indonesia Timur merupakan wilayah Indonesia dengan keindahan alamnya. Sejauh mata memandang lukisan tersebut mampu membangkitkan kecintaan kita pada Republik Indonesia, rasa cinta Tanah Air," tutur Bey.
 
Ia mengatakan, karya ini juga termasuk salah satu yang dipamerkan dalam pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi dari koleksi Istana Kepresidenan Jakarta.
 
Lukisan yang berusia setengah abad lebih itu kondisinya kotor, penuh dengan debu, dengan vernis yang sudah menguning. Selain itu cat juga sudah rapuh dan kering. Bahkan sebagian terkelupas sehingga perlu perawatan serius.
 
"Pekerjaan konservasi dengan tingkat kerusakan hampir 70 persen ini memerlukan waktu sekitar dua minggu. Sehingga kondisi kembali seperti semula," tuturnya.
 

 
Proses konservasi dilakukan meliputi "light cleaning" (pembersihan ringan dengan kwas dan vacuum), "chemical cleaning" (pembersihan dengan bahan pelarut yang aman), "framing/ reframing" (bongkar/ pasang spanram), "restretching" (mengencangkan kanvas yang kendor), dan "inpainting" (tusir warna). Selanjutnya "repainting" (melukis ulang dengan mempertimbangkan bentuk-tekstur-warna), "retouching" (memantaskan tampilan), "varnishing" (varnis), "stripping" (mengangkat overpaint/ cat yang tidak sesaui), sampai
dengan "consolidation" (penguatan cat rapuh).
 
Bahan kimia yang digunakan di antaranya "methyl ethyl ketone" (MEK) sebagai bahan pelarut, emulsi yang mengandung "2-butanone oxime", dan "oil modified alkyd resin" sebagai konsolidan cat rapuh dan kaku.
 
Bey menambahkan, pengertian konservasi dalam karya seni lukis yaitu upaya untuk melestarikan dan merawat suatu karya, agar dapat bertahan lama dan dapat dinikmati di masa yang akan datang.
 
Selain merawat atau menjaga karya sebelum terjadi kerusakan (konservasi preventif), tindakan konservasi juga dilakukan terhadap koleksi yang rusak karena faktor usia dan iklim (konservasi kuratif-restoratif).
 
Oleh karena itu, dalam melakukan proses konservasi diperlukan tenaga konservasi (konservator) andal, yang memahami metode, proses dan penggunaan alat konservasi yang benar. "Agar karya yang ditangani dapat kembali seperti sediakala dan tetap lestari," ujar Bey.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif