Jakarta: Nasib apes dialami pengguna Twitter dengan nama akun Nikan Purnama. Dia menuturkan kena bully usai melapor ke aplikasi khusus warga DKI Jakarta, JAKI, jika ada warga yang melanggar protokol kesehatan (prokes).
Padahal dia mengakui jika membuat laporan dengan menggunakan nama anonim. Namun tetap saja namanya ketahuan sebagai pihak pelapor.
"Ngelaporin orang-orang depan rumah enggak pake masker & nongkrong, ke RT enggak mempan. Akhirnya lapor via Jaki @DKIJakarta," cuit Niken Purnama di Twitternya, Jumat, 9 Juli 2021.
ngelaporin orang2 depan rumah ga pake masker & nongkrong, ke RT ga mempan. ahirnya lapor via Jaki @DKIJakarta . udah disantronin satpol PP eh malah disebut nama pelapor. gila gila malah gw kena bully. bobrok amat sistemnya
— Niken Purnama (@Niiken_Purnama) July 9, 2021
"Udah disantronin satpol PP eh malah disebut nama pelapor. Gila-gila malah gw kena bully. bobrok amat sistemnya," lanjut kicauannya.
Pemprov DKI Jakarta memang meluncurkan aplikasi JAKI yang bisa dipakai untuk begaram kebutuhan. Mulai dari membuat laporan, mencari tahu harga pangan, mengecek pajak, dan lainnya.
Namun aplikasi itu menjadi sorotan karena tidak bisa menjaga privasi penggunanya. Sehingga warga pun resah jika ingin membuat laporan, salah satunya laporan pelanggaran prokes. di masa PPKM Darurat.
"Bingung jadinya mau ngelapor kemana lagi kalo ke sistem, aplikasi yg dipercaya bisa ngerahasiain informannya aja masi bocor," tutur Niken dalam cuitan berbeda.
"Ngelapor via Jaki @DKIJakarta padahal anonim tapi masi bocor juga. padahal ngelapor buat kemaslahatan orang banyak. malah saya jadi yg kena dibully," tutupnya.
Jakarta: Nasib apes dialami pengguna
Twitter dengan nama akun Nikan Purnama. Dia menuturkan kena
bully usai melapor ke aplikasi khusus warga
DKI Jakarta, JAKI, jika ada warga yang melanggar
protokol kesehatan (prokes).
Padahal dia mengakui jika membuat laporan dengan menggunakan nama anonim. Namun tetap saja namanya ketahuan sebagai pihak pelapor.
"Ngelaporin orang-orang depan rumah enggak pake masker & nongkrong, ke RT enggak mempan. Akhirnya lapor via Jaki @DKIJakarta," cuit Niken Purnama di Twitternya, Jumat, 9 Juli 2021.
"Udah disantronin satpol PP eh malah disebut nama pelapor. Gila-gila malah gw kena
bully. bobrok amat sistemnya," lanjut kicauannya.
Pemprov DKI Jakarta memang meluncurkan aplikasi JAKI yang bisa dipakai untuk begaram kebutuhan. Mulai dari membuat laporan, mencari tahu harga pangan, mengecek pajak, dan lainnya.
Namun aplikasi itu menjadi sorotan karena tidak bisa menjaga privasi penggunanya. Sehingga warga pun resah jika ingin membuat laporan, salah satunya laporan pelanggaran prokes. di masa
PPKM Darurat.
"Bingung jadinya mau ngelapor kemana lagi kalo ke sistem, aplikasi yg dipercaya bisa ngerahasiain informannya aja masi bocor," tutur Niken dalam cuitan berbeda.
"Ngelapor via Jaki @DKIJakarta padahal anonim tapi masi bocor juga. padahal ngelapor buat kemaslahatan orang banyak. malah saya jadi yg kena di
bully," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)