Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menilai jalur evakuasi tsunami di pesisir Jawa belum memadai. Penilaian didasari survei internal BMKG.
"Jalur evakuasi tsunami hampir sebagian besar masih belum memadai. Meski BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini, tetapi belum memadai untuk evakuasi," ujar Dwikorita dikutip dari Antara, Sabtu, 22 Mei 2021.
Dwikorita menjelaskan jalur evakuasi tsunami di pesisir Jawa masih terpotong aliran sungai dan belum ada jembatan. Aliran air sungai saat tsunami dapat memperburuk dampaknya.
Baca: Pemda Pesisir Selatan Jawa Diminta Mewaspadai Peningkatan Aktivitas Gempa
Selain itu, masih ada jalur evakuasi yang terlalu jauh. Sehingga, tak ada upaya penyelamatan diri bila terjadi tsunami pendek.
Dwikorita mengatakan Pusat Studi Gempa Nasional membuat patokan skenario terburuk. Menurut dia, gempa pesisir Jawa dapat mencapai magnitudo 8,7 berdasarkan kejadian di masa lalu.
Dia menyebut perlu antisipasi dengan tepat dengan menyiapkan sarana prasarana untuk evakuasi mandiri gempa dan tsunami. Pemerintah daerah harus memfasilitasi jalur evakuasinya.
"Kalau ada sungai, disiapkan jembatan penyeberangan, lokasi tinggi untuk menghindari tsunami, kemudian menahan gelombang tinggi dengan vegetasi," ujar dia.
Deputi bidang Geofisika BMKG M Sadly mengimbau pemerintah daerah untuk siaga dan waspada, serta membenahi masyarakat. Sehingga, paham saat mengevakuasi diri.
"Mulai dari jalur evakuasi yang tertib. BMKG melakukan monitoring, serta upaya mitigasi karena kalau gempa ini tidak bisa kita tahan, harus berproses dan perlu kesiapsiagaan kita untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan," ujar Sadly.
Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (
BMKG) Dwikorita Karnawati menilai jalur evakuasi tsunami di pesisir Jawa belum memadai. Penilaian didasari survei internal BMKG.
"Jalur evakuasi tsunami hampir sebagian besar masih belum memadai. Meski BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini, tetapi belum memadai untuk evakuasi," ujar Dwikorita dikutip dari
Antara, Sabtu, 22 Mei 2021.
Dwikorita menjelaskan jalur evakuasi
tsunami di pesisir Jawa masih terpotong aliran sungai dan belum ada jembatan. Aliran air sungai saat tsunami dapat memperburuk dampaknya.
Baca:
Pemda Pesisir Selatan Jawa Diminta Mewaspadai Peningkatan Aktivitas Gempa
Selain itu, masih ada jalur evakuasi yang terlalu jauh. Sehingga, tak ada upaya penyelamatan diri bila terjadi tsunami pendek.
Dwikorita mengatakan Pusat Studi Gempa Nasional membuat patokan skenario terburuk. Menurut dia, gempa pesisir Jawa dapat mencapai magnitudo 8,7 berdasarkan kejadian di masa lalu.
Dia menyebut perlu antisipasi dengan tepat dengan menyiapkan sarana prasarana untuk evakuasi mandiri gempa dan tsunami. Pemerintah daerah harus memfasilitasi jalur evakuasinya.
"Kalau ada sungai, disiapkan jembatan penyeberangan, lokasi tinggi untuk menghindari tsunami, kemudian menahan gelombang tinggi dengan vegetasi," ujar dia.
Deputi bidang Geofisika BMKG M Sadly mengimbau pemerintah daerah untuk siaga dan waspada, serta membenahi masyarakat. Sehingga, paham saat mengevakuasi diri.
"Mulai dari jalur evakuasi yang tertib. BMKG melakukan monitoring, serta upaya mitigasi karena kalau gempa ini tidak bisa kita tahan, harus berproses dan perlu kesiapsiagaan kita untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan," ujar Sadly.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADN)