Jakarta: AirAsia X melakukan rasionalisasi jaringan penerbangan di tengah krisis yang terjadi imbas konflik. Maskapai tersebut memangkas sekitar 10 persen total penerbangan di seluruh grup guna menjaga efisiensi perusahaan.
Langkah ini diambil setelah mengevaluasi rute-rute eksploratif baru yang tidak menghasilkan keuntungan signifikan. Pemotongan ini diklaim tidak akan memutus konektivitas, melainkan penggabungan kapasitas (merging capacity) pada rute-rute dengan frekuensi tinggi.
"Secara keseluruhan, kami hanya mengurangi 10% dari total penerbangan. Hal ini karena setelah Idul Fitri, biasanya dianggap sebagai periode sepi. Jadi, total penerbangan yang kami batalkan pada dasarnya adalah 10%," ujar Bo Lingam, Group CEO of AirAsia X, Senin, 6 April 2026.
Dengan pengurangan kapasitas penerbangan sekitar 10%, maskapai juga memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan armada mereka menghadapi musim puncak (peak season) mendatang.
"Jadwal pengecekan pesawat seharusnya jatuh pada bulan September, kami melakukannya sekarang. Jadi, kalau perang berakhir dalam sebulan atau saat periode puncak, saya tidak perlu mengirim pesawat itu untuk diperiksa," jelasnya
Optimalisasi Konektivitas di Indonesia
Sementara itu Amanda Woo, Chief Commercial Officer of AirAsia X, menjelaskan khusus pasar Indonesia, AirAsia melakukan penyesuaian frekuensi pada beberapa rute domestik guna memastikan keterisian kursi tetap optimal. Strategi ini diterapkan pada rute-rute konektivitas yang baru dibuka tahun ini.
"Saat ini, kami sedang menyesuaikan jadwal penerbangan, yang semula dua kali sehari, akan kami kurangi menjadi satu kali sehari atau satu kali seminggu," jelas Amanda.
Amanda menambahkan bahwa langkah ini diambil untuk menyeimbangkan antara efisiensi biaya bahan bakar yang melambung tinggi dengan kebutuhan mobilitas masyarakat yang tetap tumbuh.
Jakarta: AirAsia X melakukan rasionalisasi jaringan penerbangan di tengah krisis yang terjadi imbas konflik. Maskapai tersebut memangkas sekitar 10 persen total penerbangan di seluruh grup guna menjaga efisiensi perusahaan.
Langkah ini diambil setelah mengevaluasi rute-rute eksploratif baru yang tidak menghasilkan keuntungan signifikan. Pemotongan ini diklaim tidak akan memutus konektivitas, melainkan penggabungan kapasitas (merging capacity) pada rute-rute dengan frekuensi tinggi.
"Secara keseluruhan, kami hanya mengurangi 10% dari total penerbangan. Hal ini karena setelah Idul Fitri, biasanya dianggap sebagai periode sepi. Jadi, total penerbangan yang kami batalkan pada dasarnya adalah 10%," ujar Bo Lingam, Group CEO of AirAsia X, Senin, 6 April 2026.
Dengan pengurangan kapasitas penerbangan sekitar 10%, maskapai juga memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan armada mereka menghadapi musim puncak (peak season) mendatang.
"Jadwal pengecekan pesawat seharusnya jatuh pada bulan September, kami melakukannya sekarang. Jadi, kalau perang berakhir dalam sebulan atau saat periode puncak, saya tidak perlu mengirim pesawat itu untuk diperiksa," jelasnya
Optimalisasi Konektivitas di Indonesia
Sementara itu Amanda Woo, Chief Commercial Officer of AirAsia X, menjelaskan khusus pasar Indonesia, AirAsia melakukan penyesuaian frekuensi pada beberapa rute domestik guna memastikan keterisian kursi tetap optimal. Strategi ini diterapkan pada rute-rute konektivitas yang baru dibuka tahun ini.
"Saat ini, kami sedang menyesuaikan jadwal penerbangan, yang semula dua kali sehari, akan kami kurangi menjadi satu kali sehari atau satu kali seminggu," jelas Amanda.
Amanda menambahkan bahwa langkah ini diambil untuk menyeimbangkan antara efisiensi biaya bahan bakar yang melambung tinggi dengan kebutuhan mobilitas masyarakat yang tetap tumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)