Ilustrasi hoaks. Antara/Yudhi Mahatma
Ilustrasi hoaks. Antara/Yudhi Mahatma

Tujuh Rupa Konten Hoaks

Nasional hoax Media Academy
Cindy • 30 Juli 2020 15:43
Jakarta: Desk Head Kanal Cek Fakta Medcom.id, Wanda Indana, membeberkan ada tujuh jenis berita bohong atau hoaks. Pertama, hoaks satir atau parodi.
 
"Hoaks jenis ini tidak ada niat jahat, namun bisa mengecoh masyarakat," kata Wanda lewat diskusi daring bertajuk Turn Back Hoax yang digelar Media Academy, Kamis, 30 Juli 2020.
 
Contohnya, hoaks terkait narasi larangan bersalawat yang beredar di media sosial Facebook pada 2017. Konten tersebut dimuat sebagai parodi, namun memicu konflik masyarakat karena berpikir pemerintahan kala itu anti-Islam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebenarnya dari foto spanduk itu, ada kabupaten di Cirebon yang namanya Larangan. Dan itu maknanya bakal ada kegiatan bersalawat di sana," ujar dia.
 
Kedua, hoaks jenis false connection atau judul yang berbeda dengan isi berita. Hoaks ini diunggah demi keuntungan semata dan biasanya judul bersifat sensasional.
 
Ketiga, hoaks jenis false context atau informasi salah. Artinya, sebuah konten di media sosial disajikan dengan narasi konteks yang berbeda dengan informasi asli.
 
"Kemudian, misleading content atau konten dipelintir untuk menjelekkan. Jadi konten memang berdasar dari sumber resmi, namun dipelintir untuk menggiring opini masyarakat," ujar Wanda.
 
Hoaks jenis ini mengubah konten sedemikian rupa agar tidak sama seperti aslinya. Baik itu berupa gambar, pernyataan resmi, statistik, video, maupun suara.
 
Kelima, hoaks jenis imposter content atau konten yang mencatut nama tokoh publik. Contohnya foto putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, diubah dengan narasi yang menjelek-jelekkan rakyat.
 
"Foto diambil dari unggahan resmi Kaesang, tapi narasi yang ditulis berbeda," sambung dia.
 
Keenam, jenis hoaks manipulated content atau konten manipulasi. Konten sesuai dengan aslinya namun diubah untuk mengecoh.
 
Terakhir, fabricated content atau konten palsu. Konten jenis ini tidak dapat diuji kebenarannya karena seluruh konten dibuat dan bersifat palsu.
 
"Misal informasi medis yang kita terima selama covid-19, makan pecel lele bisa meredakan virus korona. Itu konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," ungkap Wanda.
 
Wanda mengimbau masyarakat mengenali jenis-jenis hoaks. Agar nantinya tak tertipu dan ikut menyebarkan berita bohong.
 

(SUR)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif