Ilustrasi ruang tindakan DSA - Metro TV.
Ilustrasi ruang tindakan DSA - Metro TV.

Terapi Cuci Otak Diminati Vietnam

Nasional Dokter Terawan
Media Indonesia • 13 November 2018 08:10
Jakarta: Metode terapi digital subtraction angiography (DSA) untuk pencegahan stroke atau yang dikenal sebagai cuci otak sempat menjadi perdebatan. Meski demikian, metode itu tetap diminati masyarakat, bahkan pasien mancanegara.
 
Terbukti, Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto selaku penyedia layanan tersebut menjalin kerja sama dengan pemerintah Vietnam dalam rangka memberikan layanan DSA. Layanan DSA akan diberikan pada 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mendorong medical tourism di Indonesia di bidang layanan kesehatan.
 
"Teknologi ini diminati banyak pasien tidak hanya dari Vietnam. Ini standar pelayanan internasional dan jika dikembangkan sebagai medical tourism bisa mendatangkan devisa yang baik untuk negara," ujar Kepala RSPAD Gatot Soebroto dr Terawan Agus Purtanto SpRad seusai acara penandatanganan kerja sama di Aula RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa, 12 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada penandatanganan itu Pemerintah Vietnam diwakili langsung oleh Duta Besar Vietnam untuk Indonesia, Pham Vinh Quang.
 
Terawan yang juga dokter pengembang metode DSA untuk pencegahan stroke mengatakan banyak pasien antusias mendapatkan tindakan DSA. Dalam sehari, katanya, ia bisa melayani sekitar 30 pasien.
 
(Baca juga:Kemenkes Siap Buktikan Metode 'Cuci Otak' Terawan)
 
"Saya tidak melakukan sendiri. Saya sudah melakukan regenerasi sampai level ketiga, jadi ada tujuh dokter yang terlibat di sini," terang dia.
 
Mengenai tarif, Terawan mengatakan tidak ada perbedaan harga untuk pelayanan DSA bagi pasien Indonesia maupun luar negeri. Biaya untuk tindakan DSA, ujar ia, umumnya Rp20 juta-Rp25 juta, tetapi di luar itu ada biaya tambahan seperti untuk pemeriksaan penunjang dan jasa medik untuk dokter.
 
Pihak kementerian Kesehatan (Kemenkes), lanjutnya, sudah memberikan izin. "(Kemenkes) sudah tahu. Kalau tidak memberikan izin pasti ada surat keputusan untuk tidak melakukan," tutur Terawan.
 
Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang mendorong kolaborasi tidak hanya di bidang medical tourism, tetapi juga untuk peningkatan layanan kesehatan.
 
"Setiap tahunnya ada 20 juta turis dari Vietnam berkunjung ke Indonesia dan juga sebaliknya," ujar dia.
 


 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif