medcom.id, Jakarta: Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) serta ilmuwan di Uni Eropa akhirnya mengeluarkan pernyataan: senyawa glifosat pada herbisida tak berbahaya bagi manusia. Herbisida biasa dipakai untuk mengendalikan gulma pada produk pertanian.
Herbisida adalah produk yang banyak digunakan petani di dunia, termasuk Indonesia. Kepala Pestisida Satuan EFSA Jose Tarazona mengatakan, EFSA membuktikan senyawa glifosat aman bagi manusia.
"Berdasarkan hasil penelitian dan data terkini, kami menyimpulkan glifosat tidak mungkin bersifat karsinogenik,” kata Jose, belum lama ini.
Menurut Jose, senyawa aktif glifosat juga tidak bersifat genotoksik atau merusak DNA yang bisa menumbuhkan sel kanker.
Kesimpulan EFSA ini jadi penyanggah laporan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). IARC sebelumnya menyebutkan glifosat bersifat karsinogenik.
Herbisida berbahan aktif glifosat kini banyak digunakan petani dan pekebun di Indonesia. Herbisida diyakini ampuh membasmi gulma, murah, dan aman. Glifosat adalah salah satu bahan aktif dan formulasi dengan tingkat toksisitas terendah (LD50 oral > 5000 mg/kg & LD 50 dermal > 5000 mg/kg). Jumlah itu menurut WHO masuk dalam Kelas IV, yaitu tidak berbahaya pada penggunaan normal.
Berdasarkan penelitian LPPM Universita Sumatera Utara (USU) pada 2012 hampir 8 juta hektare lahan di Indonesia disemprot herbisida glifosat. Rinciannya, 64 persen digunakan pada lahan perkebunan sawit, 11 persen pada lahan padi, 6,2 persen pada lahan jagung. Sisanya digunakan untuk pengendalian gulma pada areal kakao, hortikultura, dan karet.
Edison Purba, peneliti USU, mengatakan, sampai saat ini belum ada satupun jenis herbisida yang bisa menggantikan posisi glifosat dengan sifat dan keunggulan yang sama. Dia yakin, jika herbisida glifosat tak digunakan dalam dunia pertanian pasti akan melahirkan dampak sosial dan ekonomi yang besar bagi pertanian di Indonesia.
medcom.id, Jakarta: Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) serta ilmuwan di Uni Eropa akhirnya mengeluarkan pernyataan: senyawa glifosat pada herbisida tak berbahaya bagi manusia. Herbisida biasa dipakai untuk mengendalikan gulma pada produk pertanian.
Herbisida adalah produk yang banyak digunakan petani di dunia, termasuk Indonesia. Kepala Pestisida Satuan EFSA Jose Tarazona mengatakan, EFSA membuktikan senyawa glifosat aman bagi manusia.
"Berdasarkan hasil penelitian dan data terkini, kami menyimpulkan glifosat tidak mungkin bersifat karsinogenik,” kata Jose, belum lama ini.
Menurut Jose, senyawa aktif glifosat juga tidak bersifat genotoksik atau merusak DNA yang bisa menumbuhkan sel kanker.
Kesimpulan EFSA ini jadi penyanggah laporan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). IARC sebelumnya menyebutkan glifosat bersifat karsinogenik.
Herbisida berbahan aktif glifosat kini banyak digunakan petani dan pekebun di Indonesia. Herbisida diyakini ampuh membasmi gulma, murah, dan aman. Glifosat adalah salah satu bahan aktif dan formulasi dengan tingkat toksisitas terendah (LD50 oral > 5000 mg/kg & LD 50 dermal > 5000 mg/kg). Jumlah itu menurut WHO masuk dalam Kelas IV, yaitu tidak berbahaya pada penggunaan normal.
Berdasarkan penelitian LPPM Universita Sumatera Utara (USU) pada 2012 hampir 8 juta hektare lahan di Indonesia disemprot herbisida glifosat. Rinciannya, 64 persen digunakan pada lahan perkebunan sawit, 11 persen pada lahan padi, 6,2 persen pada lahan jagung. Sisanya digunakan untuk pengendalian gulma pada areal kakao, hortikultura, dan karet.
Edison Purba, peneliti USU, mengatakan, sampai saat ini belum ada satupun jenis herbisida yang bisa menggantikan posisi glifosat dengan sifat dan keunggulan yang sama. Dia yakin, jika herbisida glifosat tak digunakan dalam dunia pertanian pasti akan melahirkan dampak sosial dan ekonomi yang besar bagi pertanian di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ICH)