Jakarta: Sebanyak tiga anak di Sukabumi, Jawa Barat, ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan anak usia 16 tahun hingga tewas. Pemerhati anak, Maria Advianti, menilai kurang perhatian keluarga menjadi faktor pemicu maraknya pelaku kekerasan yang masih dibawah umur.
"Anak-anak ini biasanya kurang perhatian, yang seharusnya mendapat perhatian di rumah tetapi tidak didapat, sehingga mereka mencari perhatian di luar rumah dengan melakukan tindakan tersebut," ujar Maria, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Selasa, 14 Maret 2023.
Maria menjelaskan pelaku yang masih di bawah umur ini melakukan kekerasan karena lingkungan dan pengaruh teman saat berkelompok. Mereka ingin membuktikan dirinya bukan pengecut.
Berani melakukan kekerasan pada orang lain atau mencari jati diri di luar rumah. "Bila ada temannya yang sudah terbiasa dengan perilaku kekerasan, maka dia akan meniru dan menganggap itu adalah sesuatu yang dapat dibenarkan," katanya.
Maria menyebut tindakan kekerasan bisa juga dipicu pengalaman pelaku menjadi korban kekerasan dari orang yang memiliki makna penting. Misalnya, orang tua. Maria menyebut kekerasan dari orang terdekat ini bahkan paling umum terjadi.
"KPAI pernah melakukan survei bahwa pelaku kekerasan yang tertinggi justru berasal dari ayah kandung, ibu kandung, kemudian disusul ayah dan ibu tiri. Artinya bahwa anak sangat rentan menjadi korban perilaku kekerasan justru di rumah dan mengadopsi hal tersebut keluar rumah. Karena di luar rumah dirinya tidak berdaya," ujarnya. (Dewi Larasati)
Jakarta: Sebanyak tiga anak di Sukabumi, Jawa Barat, ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan anak usia 16 tahun hingga tewas. Pemerhati anak, Maria Advianti, menilai kurang perhatian keluarga menjadi faktor pemicu maraknya pelaku
kekerasan yang masih dibawah umur.
"Anak-anak ini biasanya kurang perhatian, yang seharusnya mendapat perhatian di rumah tetapi tidak didapat, sehingga mereka mencari perhatian di luar rumah dengan melakukan tindakan tersebut," ujar Maria, dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia di
Metro TV, Selasa, 14 Maret 2023.
Maria menjelaskan pelaku yang masih di bawah umur ini melakukan kekerasan karena lingkungan dan pengaruh teman saat berkelompok. Mereka ingin membuktikan dirinya bukan pengecut.
Berani melakukan kekerasan pada orang lain atau mencari jati diri di luar rumah. "Bila ada temannya yang sudah terbiasa dengan perilaku kekerasan, maka dia akan meniru dan menganggap itu adalah sesuatu yang dapat dibenarkan," katanya.
Maria menyebut tindakan
kekerasan bisa juga dipicu pengalaman pelaku menjadi korban kekerasan dari orang yang memiliki makna penting. Misalnya, orang tua. Maria menyebut kekerasan dari orang terdekat ini bahkan paling umum terjadi.
"KPAI pernah melakukan survei bahwa pelaku kekerasan yang tertinggi justru berasal dari ayah kandung, ibu kandung, kemudian disusul ayah dan ibu tiri. Artinya bahwa anak sangat rentan menjadi korban perilaku kekerasan justru di rumah dan mengadopsi hal tersebut keluar rumah. Karena di luar rumah dirinya tidak berdaya," ujarnya.
(Dewi Larasati)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SUR)