medcom.id, Jakarta: Lebih dari 4 juta penduduk yang menghuni tanah Bali mayoritas memeluk agama Hindu. Tak kurang dari 500 desa adat berdiri.
Dari sekian banyak penduduk Hindu yang menghuni ratusan desa adat, ada salah satu desa yang memiliki karakteristik masyarakat yang heterogen. Tak hanya Hindu, umat agama lain seperti Muslim tinggal berdampingan dengan mereka.
Namanya Desa Pekraman Tuban. Desa ini secara demografis terletak tak jauh dari bandara internasional Ngurah Rai, Bali. Bagai pintu masuk, Bali yang notabene wilayah yang sangat teguh memegang adat rupanya memiliki rasa toleransi tinggi terhadap mereka yang berbeda.
"Desa adat dalam pengertian sempit hanya untuk orang Bali yang beragama Hindu. Tapi Pekraman ini lebih luas, siapapun (boleh) tinggal di desa ini baik beragama Hindu maupun bukan," ungkap Kepala Desa Pekraman Tuban Wayan Mendra, dalam 360, Kamis 1 Juni 2017.
Mendra yang juga disebut sebagai Bendesa mengatakan mayoritas warga Desa Pekraman Tuban memang pendatang. Jumlah warga yang beragama non Hindu hampir tiga kali lipat dibandung penduduk pribuminya.
Mendra bahkan menyebut perbandingan warga Hindu dan non Hindu bisa 1:3 bahkan lebih. Hal ini disebabkan adanya eksodus penduduk yang mencari kerja di Pulau Bali, khusunya Tuban.
Meskipun berbeda secara adat dan agama, seluruh desa adat di Pulau Dewata ini diikat oleh aturan yang sama yang disebut Awig-awig. Awig-awig atau hukum adat ini wajib dipegang oleh seluruh masyarakat, tak memandang apakah mereka Hindu atau bukan.
"Awig-awig itu semacam panutan yang dijaga oleh Pecalang-pecalang. Pecalang itu dalam bahasa Indonesia keamanan, mereka menjaga segala bentuk acara besar keagamaan. Di sanalah wujud toleransi itu yang membedakan desa ini dengan desa lain," ungkap Mendra.
Para Pecalang
Ada sekitar 100 pecalang yang bertugas mengawal berbagai acara keagamaan. Ternyata tidak semua pecalang memeluk agama yang sama.
Toyib misalnya. Pecalang muslim yang tak kurang dari 20 tahun mengabdikan diri sebagai salah satu keamanan untuk menjaga hukum adat.
"Memang dari desa adat mengambil pecalang bukan hanya dari (umat) Hindu. Pecalang memang terlahir di Tuban. Walaupun Hindu, Islam bahkan ada beberapa yang Kristen juga ikut dilibatkan jadi pecalang," ungkap Toyib.
Seperti halnya anggota keamanan lain, pecalang juga mengenakan pakaian khusus. Baju safari dua saku yang dibalut dengan kain bermotif khas Bali serta ikat kepala.
Toyib menuturkan meskipun kain yang digunakan memang khas Bali, dia memastikan bahwa pakaian pecalang tidak hanya boleh digunakan oleh mereka yang Hindu saja.
"Baju pecalang inilah loreng ini artinya tanda kita berkaitan antara putih dan hitam, baik dan buruk. Jadi udeng kamen lili bukanlah pakaian adat Hindu, tapi pakaian adat Bali," katanya.
Keterlibatan Toyib sebagai pecalang membuktikan bahwa agama dan budaya memiliki keterkaitan dan bisa hidup berdampingan. Baginya, baik mereka yang muslim maupun Hindu memang berkaitan satu dengan yang lain.
Toyib setiap hari bertugas di sebuah pos keamanan di jalur pendaratan. Bagi dia menjadi pecalang bukanlah keterpaksaan lantaran desakan kebutuhan.
Kepentingan desa menjadi tujuan utama untuk didahulukan ketimbang hasrat pribadinya. Dia ingin tetap bermanfaat bagi warga lain yang hidup berdampingan bersamanya.
Toyib mengaku, menjadi pecalang memang tak sama dengan penjaga keamanan lain yang bisa mendapatkan insentif maupun gaji. Namun, baginya hal itu tak masalah, sebab tujuannya hanya satu, mengayah diri atau mengabdi yang dalam Islam memang dibebaskan.
"Ngayahnya di pecalang. Memang tidak ada kaitan pecalang dengan agama Islam. Bagi saya Islam adalah agama per individu kita, tapi jadi pecalang adalah salah satu pengabdian kita kepada adat desa, kepada Tuba," ungkapnya.
Sama halnya dengan Toyib, Wayan Merta juga mengabdikan dirinya sebagai pecalang. Merta yang memang lahir sebagai umat Hindu, memutuskan menjadi pecalang sejak lima tahun lalu.
Bagi dia menjadi pecalang adalah sebuah panggilan agar seluruh umat yang tinggal di Bali tetap harmonis satu sama lain. Selama menjadi pecalang, Merta mengaku belum sekalipun mendengar adanya gesekan antarwarga yang berbeda keyakinan.
"Di Tuban, komunikasi antara ulama yang ada sampai sekarang belum lihat ada ribut. Karena setiap ada acara besar keagamaan kita selalu koordinasi. Kami selalu mencari solusi dengan duduk bersama sehingga ada kesepakatan," ujar Merta.
Merta yang memang menjadi masyarakat mayoritas memandang, menjadi pecalang bukanlah untuk memvonis seseorang atau sekelompok orang bersalah dan tidak. Bagi dia, menjadi pecalang adalah berbaur satu sama lain untuk memastikan bahwa masyarakat terayomi dengan baik.
"Kami di pecalang mengayomi masyarakat, membina, dan meminimalisir permasalahan di masyarakat. Tidak boleh memvonis karena negara ini negara hukum," jelas Merta.
medcom.id, Jakarta: Lebih dari 4 juta penduduk yang menghuni tanah Bali mayoritas memeluk agama Hindu. Tak kurang dari 500 desa adat berdiri.
Dari sekian banyak penduduk Hindu yang menghuni ratusan desa adat, ada salah satu desa yang memiliki karakteristik masyarakat yang heterogen. Tak hanya Hindu, umat agama lain seperti Muslim tinggal berdampingan dengan mereka.
Namanya Desa Pekraman Tuban. Desa ini secara demografis terletak tak jauh dari bandara internasional Ngurah Rai, Bali. Bagai pintu masuk, Bali yang notabene wilayah yang sangat teguh memegang adat rupanya memiliki rasa toleransi tinggi terhadap mereka yang berbeda.
"Desa adat dalam pengertian sempit hanya untuk orang Bali yang beragama Hindu. Tapi Pekraman ini lebih luas, siapapun (boleh) tinggal di desa ini baik beragama Hindu maupun bukan," ungkap Kepala Desa Pekraman Tuban Wayan Mendra, dalam
360, Kamis 1 Juni 2017.
Mendra yang juga disebut sebagai Bendesa mengatakan mayoritas warga Desa Pekraman Tuban memang pendatang. Jumlah warga yang beragama non Hindu hampir tiga kali lipat dibandung penduduk pribuminya.
Mendra bahkan menyebut perbandingan warga Hindu dan non Hindu bisa 1:3 bahkan lebih. Hal ini disebabkan adanya eksodus penduduk yang mencari kerja di Pulau Bali, khusunya Tuban.
Meskipun berbeda secara adat dan agama, seluruh desa adat di Pulau Dewata ini diikat oleh aturan yang sama yang disebut Awig-awig. Awig-awig atau hukum adat ini wajib dipegang oleh seluruh masyarakat, tak memandang apakah mereka Hindu atau bukan.
"Awig-awig itu semacam panutan yang dijaga oleh Pecalang-pecalang. Pecalang itu dalam bahasa Indonesia keamanan, mereka menjaga segala bentuk acara besar keagamaan. Di sanalah wujud toleransi itu yang membedakan desa ini dengan desa lain," ungkap Mendra.
Para Pecalang
Ada sekitar 100 pecalang yang bertugas mengawal berbagai acara keagamaan. Ternyata tidak semua pecalang memeluk agama yang sama.
Toyib misalnya. Pecalang muslim yang tak kurang dari 20 tahun mengabdikan diri sebagai salah satu keamanan untuk menjaga hukum adat.
"Memang dari desa adat mengambil pecalang bukan hanya dari (umat) Hindu. Pecalang memang terlahir di Tuban. Walaupun Hindu, Islam bahkan ada beberapa yang Kristen juga ikut dilibatkan jadi pecalang," ungkap Toyib.
Seperti halnya anggota keamanan lain, pecalang juga mengenakan pakaian khusus. Baju safari dua saku yang dibalut dengan kain bermotif khas Bali serta ikat kepala.
Toyib menuturkan meskipun kain yang digunakan memang khas Bali, dia memastikan bahwa pakaian pecalang tidak hanya boleh digunakan oleh mereka yang Hindu saja.
"Baju pecalang inilah loreng ini artinya tanda kita berkaitan antara putih dan hitam, baik dan buruk. Jadi udeng kamen lili bukanlah pakaian adat Hindu, tapi pakaian adat Bali," katanya.
Keterlibatan Toyib sebagai pecalang membuktikan bahwa agama dan budaya memiliki keterkaitan dan bisa hidup berdampingan. Baginya, baik mereka yang muslim maupun Hindu memang berkaitan satu dengan yang lain.
Toyib setiap hari bertugas di sebuah pos keamanan di jalur pendaratan. Bagi dia menjadi pecalang bukanlah keterpaksaan lantaran desakan kebutuhan.
Kepentingan desa menjadi tujuan utama untuk didahulukan ketimbang hasrat pribadinya. Dia ingin tetap bermanfaat bagi warga lain yang hidup berdampingan bersamanya.
Toyib mengaku, menjadi pecalang memang tak sama dengan penjaga keamanan lain yang bisa mendapatkan insentif maupun gaji. Namun, baginya hal itu tak masalah, sebab tujuannya hanya satu, mengayah diri atau mengabdi yang dalam Islam memang dibebaskan.
"Ngayahnya di pecalang. Memang tidak ada kaitan pecalang dengan agama Islam. Bagi saya Islam adalah agama per individu kita, tapi jadi pecalang adalah salah satu pengabdian kita kepada adat desa, kepada Tuba," ungkapnya.
Sama halnya dengan Toyib, Wayan Merta juga mengabdikan dirinya sebagai pecalang. Merta yang memang lahir sebagai umat Hindu, memutuskan menjadi pecalang sejak lima tahun lalu.
Bagi dia menjadi pecalang adalah sebuah panggilan agar seluruh umat yang tinggal di Bali tetap harmonis satu sama lain. Selama menjadi pecalang, Merta mengaku belum sekalipun mendengar adanya gesekan antarwarga yang berbeda keyakinan.
"Di Tuban, komunikasi antara ulama yang ada sampai sekarang belum lihat ada ribut. Karena setiap ada acara besar keagamaan kita selalu koordinasi. Kami selalu mencari solusi dengan duduk bersama sehingga ada kesepakatan," ujar Merta.
Merta yang memang menjadi masyarakat mayoritas memandang, menjadi pecalang bukanlah untuk memvonis seseorang atau sekelompok orang bersalah dan tidak. Bagi dia, menjadi pecalang adalah berbaur satu sama lain untuk memastikan bahwa masyarakat terayomi dengan baik.
"Kami di pecalang mengayomi masyarakat, membina, dan meminimalisir permasalahan di masyarakat. Tidak boleh memvonis karena negara ini negara hukum," jelas Merta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)